Sentuhan Maskulin Dibutuhkan oleh Pendidikan

Saya berada di sekolah anak untuk menonton assembly kelas, yaitu penampilan seni tari, menyanyi, dan acting. Antusias karena ini pertama kali saya melihatnya manggung dari jarak 2 meter saja. Saya menikmati seluruh penampilan dari awal sampai akhir, sesekali memulai tepuk tangan dikala penonton terlalu sunyi entah karena terpana atau tipikal orang indonesia yang agak sulit memberikan tepukan kecuali diakhir penampilan itu pun jika diminta oleh MC. Lebih menikmati karena pihak guru sebagai pelatih menambahkan bumbu komedi pada script drama anak-anak, tidak ketinggalan sound yang mantap nyaringnya untuk aula sebesar itu. Ohya dan satu lagi, guru-guru menambahkan tayangan layar dengan foto-foto tiap anak dan keluarganya. Ah mengesankan

Satu hal yang ingin saya garis bawahi yang semoga bisa menjadi input bagi para pendidik dan pengasuh, adalah gerakan para siswa laki-laki yang kurang sentuhan maskulinitas. Ketika bernyanyi, anak laki-laki gerak langkah kaki kiri-kanan, untuk ini perempuan bisa menampilkan gemulai ditambah tangannya ikut menari. Ketika laki-laki menari, tidak ada power/tenaga sepanjang gerakan, menendang hanya menendang pura-pura dan pendek, meloncat sekedar jinjit. Capek kah? Atau gerakannya memang cukup boring bagi anak laki-laki? Ketika acting, peran seperti petani, pilot, masinis, pengusaha, anggota DPR RI, TNI, yang sudah dengan kostum gagahnya masing-masing, lagi-lagi diberi gerakan langka kaki kiri-kanan saja. Jujur saya tegaskan ulang: kurang sentuhan maskulin.

Iya, memang ini penampilan anak-anak kelas 4 SD, namun bijak rasanya jika disesuaikan saja porsi gaya perempuan dan laki-lakinya. Khusus untuk gerakan laki-laki dalam berkesenian, POWER adalah segalanya, agar membedakan dengan gemulainya gaya perempuan.

Tentu ini menjadi concern, karena saya memiliki 3 anak laki-laki, dan punya pengalaman mengawal lebih dari 40 remaja laki-laki usia SMA di yayasan yang saya asuh, lalu kini dosen untuk mahasiswa S1 dimana banyak remaja laki-laki yang masih belasan tahun terlihat lemas, tidak semangat, bergerak lambat. Terus terang, agak risih jika dihadapan saya terlihat sosok yang tidak bergerak cepat, apalagi laki-laki.

Saya dapat data dari teman, tentang prosentase guru menurut jenis kelamin dan jenjang sekolah, menurut Kemendikbud. Dari 100 responden guru SD perempuan 62.98%, laki-laki 37.02%. Guru SMP perempuan 43.03%, laki-laki 56.97%. Guru SMA dan SMK perempuan 53.72%, laki-laki 46.28%. Guru SD sungguh signifikan jauh lebih banyak berjenis kelamin perempuan dibanding laki-laki. Usia SD yang durasinya paling lama diantara jenjang sekolah lain, yaitu 6 tahun, dihadapkan dengan feminitas. Sedikit banyak berpengaruh pada 5 hari sekolah dikali @6-8 jam berada di sekolah.

Benar bahwa pendidikan dan pengasuhan memang pada mayoritasnya menjadi porsi perempuan: di rumah dengan ibu, di sekolah dengan ibu Guru. Meanwhile, merefer pada buku Budaya Organisasi Achmad Sobirin, terdapat negara yang maskulin dan feminin. Ini menarik. Mengingat Indonesia merupakan negara yang menganut budaya patrilineal.

Sobirin membedakan masyarakat maskulin dan feminin, yang saya kutip beberapa saja. Negara maskulin seperti Jepang, Inggris Raya, Jerman, Austria, Meksiko. Negara Feminin seperti Swedia, Norwegia, Belanda, Denmark, Finlandia, Thailand, Guatemala. Negara maskulin secara umum meletakkan nilai-nilai masyarakat dominan pada kemajuan ekonomi, sementara negara feminin dominan pada kepedulian & menjaga hubungan dengan orang lain. Di dalam keluarga masyarakat maskulit, seorang ayah lebih banyak berhubungan dengan fakta dan realita, ibu dengan perasaan. Masyarakat feminin, baik ayah maupun ibu bersama-sama memperhatikan fakta sekaligus perasaan. Dilihat dari cuplikan Sobirin diatas, Indonesia masuk ke kategori negara maskulin.

Pendidikan di Indonesia memerlukan sentuhan maskulin. Bahwa perlu jumlah yang lebih banyak akan bapak-bapak guru. Bahwa institusi pendidikan bijak jika mempertimbangkan mempekerjakan 50-50 guru perempuan-laki. Serta diingatkan bahwa anak-anak usia TK dan SD pun difasilitasi untuk  berkegiatan berbau maskulinitas.

Sementara di rumah, para ibu yang tentu mendapat daulat lebih banyak dalam pengasuhan sehari-hari, mengarahkan anak laki-lakinya kepada perilaku dan kegiatan yang mengasah sisi maskulin. Bertingkah laku sehari-hari diajarkan lebih gentlemen: menghormati perempuan baik ke ibu kaka adik, membebankan house-chores yang lebih ke fisik, berikan tanggung jawab lebih semisal menjaga adik. Sementara pekerjaan seperti memasak, mencuci  yang mungkin ranah feminin di rumah tangga, sangat baik diperkenalkan. Tujuannya tentu diniatkan untuk pembekalan menjadi individu yang mandiri kelak.

Bagaimana peran bapak dalam pendidikan dan pengasuhan? wah itu satu tulisan lagi… :)

Berkompetisi: Bukan Menang Kalah, Namun Ajang Melatih Mental

I have never set a bar for my kids to get medal or trophy. Mencoba lebih menghargai proses dibanding hasil. Hal ini saya tekankan bukan hanya untuk anak-anak, tapi juga saya sebagai orangtua: konsistensi mendukung dan mendampingi every little steps, yang ternyata tidak mudah karena terkadang situasi sekitar menuntut lebih.

Alhasil, jika anak bisa mencapai satu prestasi yang membuahkan medali atau piala, buat kami itu BONUS. Menjadi sebuah rekognisi dan penghargaan atas USAHA dan PROSES selama ini.

Jujur dan tanpa berlebihan, saya selalu membiasakan ajak anak-anak untuk refleksi dan evaluasi paska kompetisi, karena dibalik hasil yang diraih ada banyak sekali lesson learnt. Taruhlah seperti, betapa memenej waktu itu hal esensial yang jika tidak dilakukan bisa runyam. Menghargai komitmen orang lain yg berada dalam tim dengan datang tidak telat dan aktif berpartisipasi. Melakukanperencanaan dan persiapan dengan baik dan cukup. Mengerjakan pekerjaan rumah sebagai bentuk pengingat, dan masih banyak lagi.

Sebagai orangtua yang dalam hal ini berperan sebagai fasilitator, bijak jika kerap ingatkan anak bahwa dalam satu kompetisi ada yang menang ada yang tidak. Jika belum menang itu artinya pemicu untuk kita berlaku lebih baik lagi di kemudian. Terima dengan sportif. Lagi2, usaha nya lah yang kita hargai dan menjadi pembahasan. Jika terbukti belum maksimal, diperbaiki. Jika terbukti ada kesulitan, dicari solusi. Jika terbukti ada missed management, diarahkan. Jika terbukti ada kurang kordinasi, efektifkan komunikasi. Kalah terkadang malah menjadi pembelajaran nomor satu untuk terus berkembang dan tidak putus sampai disitu sahaja.

Kalah itu momen untuk introspeksi diri. Menang itu momen untuk tidak berpuas diri

Kompetisi, sebenarnya tidak hanya sekedar mengejar embel-embel juwara, namun dapat difungsikan sebagai ajang meningkatkan rasa percaya diri, mengukur diri, tidak lupa juga membantu anak untuk menjadi sportif, berjiwa profesionalitas, dan terpenting, mengasah mental.

Karena Nak, diluar sana, hidup tak lepas dari kompetisi. Bersiaplah.

EE25606A-54E3-4690-A047-065406228241

Menyusui dan Pengasuhan

Apa sih hubungannya menyusui dengan pengasuhan? ERAT.

Menyusui merupakan awal membentuk hubungan batin dan kelekatan emosi antara ibu-anak.

Menyusui melebihi sekedar memberikan makan tapi juga interaksi fisik seperti menggendong memeluk mendekap membelai menatap.

Menyusui mengajarkan ibu menjadi responsif (cepat tanggap) sehingga anak merasa diperhatikan dan akhirnya tidak sering menangis dan rewel,

Menyusui merupakan bentuk memberikan afeksi dan kehangatan yang berujung menjadikan anak percaya diri dan mandiri karena diberikan kepercayaan oleh orangtuanya sejak dini.

Menambah panjang daftar benefit menyusui ya!

Manjakan Anak Itu Perlu

Siapa yang tidak suka dipeluk?
Siapa yang tidak suka dibelai?
Siapa yang tidak suka dielus?
Siapa yang tidak suka diusap?
Siapa yang tidak suka dipijat lembut?
Siapa yang tidak suka didekap?
Siapa yang tidak suka digandeng tangan?
Siapa yang tidak suka dicium-cium?

Jika ada, artinya dia haus kasih sayang. Artinya, tidak terbiasa.

Simple. Semua orang butuh kehangatan

Beruntunglah, jika semasa kanak-kanak dan bertumbuh diperlakukan hangat oleh bapak, ibu dan/atau orang terdekat. Why? Karena saya percaya, kehangatan menjadi salah satu kunci utama pembentukan karakter seseorang.

Telah banyak bukti, orang-orang sukses, jika membaca biografi mereka, tidak terlepas dari mengisahkan bagaimana kedekatan mereka dengan orangtua dan menjadikan orangtua sebagai role-model. Bagaimana orangtua mereka dahulu memberikan cinta tulus lewat sentuhan. Telah banyak kisah orang sukses beranjak dari kekurangan (baca: kemiskinan), namun pasti berbekal cukup kasih sayang. Hanya itu modal awalnya.

Apakah memberikan sentuhan, belaian, sayang, berarti memanjakan?Berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia manja adalah:
manja /man·ja/ a 1 kurang baik adat kelakuannya krn selalu diberi hati, tidak pernah ditegur (dimarahi), dituruti semua kehendaknya, dsb: krn anak bungsu, ia sangat –; 2 sangat kasih, jinak, mesra (kpd): anak itu sangat — kpd kakeknya; kucing itu — sekali kpd tuannya;— diri gejala yang normal pada anak-anak usia antara 4—6 tahun untuk selalu memperoleh perhatian orang tua atau lingkungannya terhadap diri sendiri, biasanya disebabkan oleh terpecahnya perhatian orang tua kepada adiknya atau karena makin berkurangnya perhatian orang tua bersamaan dengan makin besarnya anak itu;

Terlihat di atas, arti manja berkonotasikan negatif, mengikutkan semua kehendaknya. Nah… Kebanyakan orangtua memanjakan dengan mengikuti apa yang dimau anak dengan materi, yang sifatnya konsumtif. Hal ini biasanya dilakukan untuk menutupi atau mengganti waktu dan perhatian yang tidak dapat diluangkan pada anak selama bekerja/bepergian keluar rumah.

Tapi… itukan yang common. Baik juga kalau kita lihat makna/arti kata manja yang kedua pada KBBI, yaitu sangat kasih, jinak, mesra (kpd)

Memanjakan anak dengan menaburkan kasih sayang dan cinta
Menaburkan, layaknya tanaman ditabur pupuk, pasti akan tumbuh dengan segar dan proper. Begitu pula, manusia. Jangan tanya sebesar apa efeknya jika semasa kecil dan bertumbuh, dipupuki cinta kasih tak berujung, kehangatan (baca: kemesraan) tak berbatas. Long term effect!

Kalau ingin menunjukan kemesraan pada anak, berikan dengan tulus sentuhan-sentuhan kasih sayang itu.  Jangka panjangnya dapat membantu membentuk karakter: perhatian, peduli, percaya diri, peka, kekeluargaan, memikirkan sekitar, mudah bersosialisasi, friendly, enak diajak ngobrol, ramah, senang berbagi, mampu menyatakan sayang, dan masih banyak lagi. Tentu jika selalu dipelihara, dilakukan, dikomunikasikan.

Mari menambah arti harfiah dari manja. Sehingga manja dalam arti konotatif dapat tergeser dengan manja yang berarti kasih dan romantisme.

Manja/a 1 Berbicara lembut; 2 Menatap mata dalam; 3 Berdiri sejajar sama tinggi; 4 Aktivitas menyentuh kulit badan atau berdekatan — memeluk, membelai, menyusui, mencium, mendekap, mengelus, mengusap, memijat, memegang tangan. (Berdasarkan kamus besar bahasa farahdibha)

Sentuhan Fisik
Hubungan orangtua dan anak berdekatan secara fisik sudah terjadi sejak dalam kandungan, bukan?

Ibu mengandung 9 bulan, dimana janin telanjang. Selama 9 bulan itu janin bersentuhan langsung dengan ibu. Lalu, dilanjutkan proses menyusui/meneteki yang jelas bersentuhan kulit pula, yaitu payudara ibu dengan badan bayi. Bisa dimaksimalkan lagi dengan ibu dan bayi tidak memakai atasan hanya bawahan saja selama sedang meneteki.

Pernah mendengar skin-to-skin contact? Yaitu kontak kulit bayi dan ibu/bapaknya, berguna untuk menghangatkan bayi, menenangkan tidak hanya bayi tapi juga ibunya, memperlancar hormon oksitoksin (hormon pengaliran ASI yang biasa disebut hormon cinta). Tidak sekedar bersetuhan, namun banyak kegunaan yang belum banyak orang sadar.

TOUCH, “bahasa” yang dipelajari sejak bayi, yang artinya bersentuhan, merupakan poin maha penting dalam pengasuhan. Jika dilewatkan atau tidak sering dipraktekkan, akan berpengaruh kedalam diri seorang individu. Misalnya, menjauhkan diri dari sekitar, cepat emosi, mudah tersinggung, kurang peka, sulit berkomunikasi verbal, dan lain sebagainya. Seperti dikatakan Rick Chillot dalam Psychology Today “Touch is the first sense we acquire and the secret weapon in many a successful relationship.” (Sentuhan adalah indera pertama yang kita dapat dan merupakan senjata rahasia dalam berbagai macam hubungan sukses).

Menyentuh adalah komunikasi non-verbal untuk mengirimkan dan menerima sinyal emosi.

Psychologist Matthew Hertenstein, pada tahun 2009 mengatakan “we have an innate ability to decode emotions via touch alone!” (kita memiliki kemampuan bawaan untuk memecahkan kode emosi melalui sentuhan saja!)

Bau Tangan
Familiar dengan 2 kata itu kan? Orangtua kita dahulu mengartikan bau tangan ini dengan anak yang tidak mau terlepas dari ibu dan selalu minta digendong. Bau tubuh ibu yang selalu ingin dicium dan dirasakan anak, sehingga si anak tidak mau dengan orang lain selain ibu. Mengalami ini? BAGUS! Kita ambil hikmahnya dan nikmati. Silahkan gendong anak, silahkan lengket dengan anak. Why? Satu, menggendong merupakan proses mendekap erat yang disukai anak-anak karena bentuk kenyamanan berdekatan dengan orang yang dicintainya, dan orang yang paling dibutuhkannya saat itu. Hal ini menjadi modal kedekatan kita si orangtua sampai akhir hayat anak. Dua, keinginan digendong ini tidak akan berlangsung lama, segera setelah anak sadar serunya berlari-lari, anak akan memilih bergerak. Segera setelah anak sadar melakukan apa-apa sendiri adalah mengasyikkan, anak akan memilih mandiri. Jadi buat apa segera mengakhiri proses berdekatan ini di tahun-tahun awal kehidupan anak? Sungguh, lagi-lagi bedakan dengan memanjakan.

Menyusui Modal Awal
Begitu pula dengan menyusui. Proses menyentuh yang powerful. Bayangkan, selain kontak kulit bayi dengan ibu nya, anak berdekatan dengan detak jantung ibu dan merasakan apa yang ibu rasakan. Detak jantung berdebar artinya ibu sedang insecure (takut, marah), si anak yang sedang berdekatan itu akan ikut merasakan, dan mungkin menjadi tidak karuan juga dan diakhiri menangis atau rewel. Semua ibu menyusui diluar sana paham dengan situasi ini, betul? Ingat, bahwa menyusui bukanlah berhenti pada proses pemberian makan saja, tapi menyusui pada payudara merupakan proses menggendong, mendekap, menyentuh, mengelus, menatap, you name it, komunikasi non-verbal yang efeknya luar biasa. Karena dilakukan berulang-ulang, sering, selama bertahun-tahun. Tercipta BONDING.

Percayalah, ini modal awal pembentukan karakter.

Selanjutnya, anak-anak beranjak usia, tidak berhenti memanjakan dalam bentuk pelukan, elusan di kepala, tatapan hangat saat dia bercerita, mencium pipi/kening, gandengan tangan, merangkul, dan terkadang tidur bareng di kamar anak/ruang keluarga. Menjaga romantisme lewat sentuhan.

Sebuah kisah dari suku Papago, suku Indian di Benua Amerika. Anak-anak Papago yang seolah-olah mendapatkan kemanjaan dari orangtua nya, seperti bayi selalu digendong dan mendapatkan kasih sayang/afeksi serta kehangatan yang besar. Setelah dewasa, anak-anak Papago ini justru menjadi mandiri dan tidak memperlihatkan ketergantungan dan tuntutan perhatian dari orangtuanya. Mereka pekerja keras dan mau meninggalkan komunitasnya untuk merantau mencari uang, namun keterikatan kepada keluarga nya tetap kokoh. Anak yang masa kecilnya puas mendapatkan afeksi, menjadi lebih kalem dan mandiri. (Rohner, 1975)

Jadi, apakah memanjakan dengan kasih sayang itu perlu?
Tidak hanya perlu, namun PENTING.