Konselor LaktASI: Sebuah Panggilan Hati

Tidak ada yang menyuruh saya untuk menyusui. Tidak ada yang mengajarkan saya menyusui. Tidak banyak yang memberikan dukungan ketika saya menyusui. Ketiga hal itu lah yang malah menjadi pendorong diri untuk menyusui. Modalnya, cari literatur, artikel, feature apapun tentang menyusui. Dari situ saya tahu apa itu pemberian ASI eksklusif, kenapa harus 6 bulan, dan kenapa tidak perlu susu tambahan. Entah dorongan dari mana yang sangat kuat, saya menjadi sangat percaya diri untuk memberikan ASI, dan tekad itu pula lah yang membuat saya berhasil menjadikan Muhammad Rafa Ibnusina sarjana ASI eksklusif dan diteruskan sampai 2,5 tahun.

Kala itu di tahun 2003 belum ada milis tentang pemberian ASI, apalagi organisasi pendukung gerakan menyusui. Maka berlatar belakang pengalaman pribadi, saya mencoba untuk berbagi dengan keluarga dan teman-teman dekat. Semakin sering saya berbagi, semakin banyak pula yang merasakan keindahan manfaat menyusui. Lalu saya melihat suatu iklan di majalah tentang pelatihan menjadi konselor laktasi, saat itu tahun 2005, dan saya bekerja sebagai penyiar radio di Jakarta. Dengan mengikuti pelatihan selama 40 jam bersama Sentra Laktasi Indonesia itulah saya menjadi konselor laktasi. Disitu pula saya bertemu pertama kali dengan dr. utami Roesli.

Menjadi konselor laktasi (KL) membuat saya semakin PD berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan cara pendekatan konseling kepada orang-orang disekitar saya. Semenjak itu pula hari-hari saya diisi dengan kegiatan bertemakan ASI. Mulai dari memberikan konseling, menjadi panitia perayaan Pekan ASI Sedunia mulai tahun 2006, dan membuat acara-acara seminar. Tahun 2007, dalam proses pencarian dana untuk salah satu acara seminar tersebut, saya bertemu dengan sebuah LSM internasional dan tidak disangka kemudian saya direkrut menjadi staf karena latar belakang saya seorang Konselor Laktasi. Tidak pernah terlintas dipikiran saya, dengan bekal pelatihan 40 jam menjadi KL, saya bisa diterima di suatu LSM yang memiliki program Kesehatan ibu dan anak tersebut. Sekedar info, saya tamatan non medis, yaitu fakultas sastra Inggris. Dan awalnya, alasan saya mengikuti pelatihan menjadi KL hanya untuk memperkaya pengetahuan saya dalam hal ASI/menyusui.

Sejak awal tahun 2007 saya menjadi staf komunikasi sebuah program menyusui pada LSM Internasional, yaitu Mercy Corps Indonesia. Disitu pula semua hal tentang menjalankan manajemen program menyusui saya pelajari secara professional. Dalam waktu yang hampir bersamaan, ketika semangat luar biasa membara karena memulai suatu pekerjaan yang berasal dari hati, saya menemukan sebuah organisasi ibu-ibu menyusui dan tanpa berpikir panjang segera bergabung. Ternyata mereka baru saja mengukuhkan sebuah Asosiasi khusus untuk ibu-ibu menyusui. Karena baru saja terbentuk, saya pun diajak untuk menjadi salah satu pendirinya. Saya merasa beruntung dan terhormat sekali bisa menjadi bagian dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, yang biasa disebut AIMI.

Selama bekerja di Mercy Corps Indonesia dari tahun 2007 sampai awal 2010 saya terlibat penuh sebuah program yang bertujuan menciptakan sebuah lingkungan yang mendukung menyusui. Bergandengan tangan dengan pemerintah, petugas kesehatan dan masyarakat dalam mengkampanyekan praktek menyusui. Pengalaman yang membuka jejaring luas, pengalaman yang mengajarkan berpikir holistik, dan yang terpenting pengalaman di lapangan dimana saya bertemu langsung dengan ibu-ibu di bilangan Jakarta Utara yang hidup diambang garis kemiskinan dan tidak mampu membeli susu formula. Memberikan susu formula merupakan tekanan dari orang-orang sekitar, petugas kesehatan, dan lingkungan. Karena itulah kasus diare dan malnutrisi sering ditemui di lapangan. Dari situ saya belajar, jika saja program menyusui ini bisa merasuk ke jiwa masyarakat, tidak hanya ibu tetapi juga para penentu kebijakan di struktur kepemerintahan dan petugas kesehatan, maka banyak bayi yang bisa selamat dari jeratan penyakit dan kematian.

Merasa terpanggil dalam menyuarakan pentingnya menyusui inilah, yang membuat saya ingin terus berbuat di dunia ASI Indonesia, maka saya bergabung total dengan AIMI sejak Maret 2010 sebagai Sekretaris Jenderal dan mendedikasikan hari-hari saya bersama-sama dengan pengurus AIMI lain untuk secara volunteer menjalankan tugas-tugas mulia, yaitu menjadi teman (baca: konselor), motivator, sekaligus fasilitator dalam menyebarluaskan dan menyediakan informasi tentang menyusui. Terlihat sederhana, namun pekerjaan ini sungguhlah memerlukan waktu, tenaga dan pikiran karena menanjaknya ekspektasi para orangtua (khususnya Ibu hamil dan menyusui) akan mendapatkan pengetahuan mengenai ASI. Tidak hanya itu, AIMI juga menjadi lembaga yang melakukan advokasi bagi terciptanya dukungan, pun dituntut untuk melakukan riset, pengembangan cabang-cabang daerah dan menjadi corong para konsumen Kesehatan (khususnya ibu hamil dan menyusui) kepada institusi kesehatan, pemerintah dan legislatif. AIMI menjadi organisasi lokal pertama yang didirikan-oleh dan diperuntukkan-bagi ibu-ibu menyusui. Hanya satu yang menyatukan para ibu-ibu menyusui yang menjadi motor penggerak AIMI, passion yang sama, yaitu breastfeeding.

Senang rasanya berbagi dan melihat semakin banyak ibu bersemangat memberikan ASI bagi putra putrinya. Semua itu tidak dapat saya rasakan jika tidak menjadi seorang konselor laktasi – sebuah panggilan dari hati.