Angkatan Terakhir Beasiswa RAYjabalHaq

Menjadi ketua yayasan @RAYjabalhaq yang memiliki total 37 remaja putra asuhan dari pelosok memberikan saya kesempatan belajar menjadi ibu, menjadi pemimpin, menjadi sahabat remaja, menjadi guru (saya sempat menjadi kepala sekolah di PAUD Taman Firdaus binaan yayasan)

Metode pemberian beasiswa bagi pelajar lulusan SMP/MTs ini dimulai 2011, dan berakhir di 2017. Beasiswa diberikan kepada pelajar berprestasi yang yatim dan dhuafa. Asal merekapun dari daerah, yang saat itu saya mulai dari Sulawesi Selatan dengan harapan akan terus berkembang ke seluruh Indonesia. Para remaja asuh ini di scout oleh saya dan tim, mereka melewati serangkaian tes dan wawancara serta pertemuan saya dan orangtua mereka (jika sudah lolos sampai tahap terakhir). Ke-37 remaja semua bersekolah di bilangan Bekasi karena yayasan kami terletak disana dan mereka di asramakan selama menempuh SMA/SMK kurang lebih 3 tahun. Peraturan yayasan cukup ketat layaknya asrama pelajar putera lain, mereka merantau dan tidak pulang ke kampung halaman sampai masa sekolah 3 tahun usai. Di asrama mereka ditempa keimanan, kemandirian, kepemimpinan, kebersamaan. Fokus pengajaran di yayasan adalah IMTAQ dan IPTEK agar mereka menjadi insan yang kuat iman dan cerdas teknologi.

Tahun 2017 ini, saya meluluskan 4 anak didik terakhir dari 37 tersebut. Bangga namun bercampur sedih karena keseharian saya bersama remaja putra tidak lagi bisa saya rasakan. Bangga karena para lulusan kami kini menyambung kuliah sambil bekerja demi mendapat biaya sekolah dan hidup.

Kedepannya, yayasan akan terus berjalan dan berkembang dengan metode didik baru. Semoga senantiasa diberikan kemudahan kelancaran🙏

Izinkan Saya Nak

Masuk ke kantor Yayasan, Pembina menyodorkan 24 rapot bayangan anak-anak. Seraya membuka tiap lembarnya…..

Tidak terkejut. Tidak heran.

Dejavu. Angka-angka ini kembali ada dihadapan saya. Angka yang awalnya membuat saya shock dan mengumpulkan anak-anak lalu melemparkan petasan kawinan betawi.

Tidak kali ini. Saya memutuskan untuk tidak mengulangi kejadian tahun lalu. Saya merasa nyaman bertanya dari sisi mereka, apa yang mereka rasakan dan pikirkan.

Terjadi diskusi yang hangat. Satu persatu mereka mengeluarkan pendapat tentang hasil rapot itu. Ada yang merasa penurunan, ada yang merasa peningkatan. Ada yang melihat dari situasi yang sama tahun lalu. Ada yang melihatnya dari sisi semester sebelumnya. Tidak ada yang salah. Sah saja melihat dari semua sudut. Dan saya membenarkan semuanya.

Diskusi diakhiri dengan tanya jawab. Mencari solusi, agar ada pembenahan diri.

Sungguh dekat.
Kangen saya terobati.

Senang rasanya kembali ditengah-tengah para anak yang sedang bergejolak hatinya. Saya tahu, kalian pasti…

Kepikiran tentang bapak ibu,
Kepikiran tentang adik, kakak serta teman-teman di kampung,
Merasa tidak punya seseorang yang bisa menjadi tempat menangis,
Merasa overwhelm dengan pelajaran sekolah, semua hafalan
Merasa lelah dengan kegiatan-kegiatan, rutinitas
Merasa capek dengan segala tuntutan, harapan, target
aaaaah masih banyak lagi…

Saya tahu, peran saya maupun yayasan tidak bisa memenuhi semua itu.
Tapi… izinkan saya Nak,
Untuk menjadi mami, pengganti ibumu di kampung,
Menjadi mami yang memberikan kasih sayang, perhatian, dan
Untuk berada disana ketika kalian butuhkan.

Walau hanya 3 tahun.