Unique Family of Mine

Mih, keluarga kita itu keluarga unik

itu yang dikatakan suami saya, mengingatkan bahwa penggabungan 2 keluarga menjadi 1 memang menjadi tidak biasa .

Setiap 10 hari terakhir ramadhan dan Lebaran misalnya, anak-anak dari suami saya akan mengunjungi kakung dan yangti nya di Solo. Keluarga Solo merupakan keluarga besar Almarhumah Bunda. Disana mereka berkumpul bersama karena tradisi yang diterapkan sejak awal, yaitu pulang kampung. Artinya, di hari-hari spesial tersebut (baca: Lebaran), sudah pasti formasi keluarga saya tidak lengkap. Kebalikan dari keluarga kebanyakan dimana ketika lebaran menjadi ajang berkumpul dan dari segala penjuru datang ke satu titik, rumah orangtua/kakek nenek/yang dituakan. Lebaran, saya dan suami yang notabene punya 5 anak total, hanya berduaan. Solat Ied berduaan, sungkeman berduaan. Alhamdulillah kalau makan sih gak berduaan, kita pakai trick open house, langsung panggil2in tetangga untuk makan bareng di rumah setelah solat Ied. Hari ke-2 syawal bianya suami dan saya menyusul anak2 ke Solo deh.

Ok, mungkin harus dijelaskan dulu letak keunikan keluarga saya ini. Menikah 2016: Suami dengan 4 anak, saya dengan 1 anak. Yak walau punya anak 5, kita ber-7 tidak tinggal dalam satu atap kesehariannya. 2016-2018 formasi tempat tinggal di 4 titik: Jakarta-Depok-Serang-Solo. Jakarta, anak saya yang tinggal bersama ibu bapak saya karena sekolahnya di Jakarta. Depok, rumah suami yang tentu kini menjadi tempat tinggal tetap saya bersama anak ke 3 dan 4. Depok yang sekiranya banyak orang tahu terletak berdampingan dengan jakarta, tetap terlalu jauh untuk jarak rumah-sekolah-rumah, makanya anak saya tetap tinggal di jakarta demi menyelesaikan sekolahnya yang terletak 13 km dari rumah kakek neneknya (itu saja terhitung jauh kan). Serang, pesantrennya anak pertama dari suami saya. Yang artinya boarding school, baik sekolah maupun tempat tinggal. Solo, anak bungsu suami saya tinggal bersama Bulek yang juga ibu susu dari anak kami yang kini berusia 2.5 tahun. Nah mid 2018, ya baru-baru ini, formasi tempat tinggal berkurang menjadi 3 titik: Depok-Solo-Magelang. Mayaaaaan, walau titel mamah AKAP masih dibahu saya hihihi. Depok remain the same, tempat tinggal kami, jadi domisili KTP dan KK. Solo pun masih ada anak bungsu kami, dan kini Magelang, SMA nya 2 remaja kami yang happendly to be satu angkatan, walau usia terpaut 8 bulan.

ini leads ke poin unik berikutnya, ketika 2 anakmu berada di satu sekolah satu angkatan, tentu semua orang akan bertanya:

Kembar ya?
Nggak.

Adik Kakak?
Iya.

Kok bisa?
Bisa.

Oh, yang satu anak akselerasi ya bu?

Karena sesungguhnya sang oponen tidak mungkin menyampaikan, Oh anak ibu yang 1 pernah tinggal kelas ya? yekaaaan hahaha…

Sampai satu hari salah satu guru di sekolah mereka:

Kembar?
tidak pak

Adik kaka?
iya

satu ibu?
nggak.

JACKPOT! Finally ada yang mampu berpikir sampai kesana. Hats off you Sir

Kan saya tidak perlu menjelaskan kepada semua orang yang bertanya toh. Jadi gini mbak/pak, saya menikah lagi (timbul tanda tanya oponen: kenapa menikah lagi, mana suaminya yang pertama, cerai hidup atau mati, berapa lama dia menjanda, gimana cari duitnya, dll); suami saya juga menikah yang kedua kali (timbul tanda tanya oponen: apakah poligami? istri keberapa? sama istri sebelumnya cerai hidup atau cerai mati, berapa lama menduda, dll); Suami saya bawa 4 anak (timbul tanda tanya oponen: banyak amat anaknya, kok bisa, emang kemana ibunya, kalau cerai hidup kenapa semua di suami, sebelum nikah siapa yang taking care anaknya, dll). Belum lagi kalau saya tambah dengan cerita: iya kalau anak saya, ayahnya meninggal dunia, anak-anak suami saya bundanya meninggal dunia (timbul ekspresi kasihan yang tidak berkesudahan). belum lagi cerita tentang 5 anak kami tinggalnya di kota yang berbeda-beda (timbul tanda tany……ah sudahlah!) jontor bibir ini, waktu per ngobrol per orang/group paling sedikit 40 menit. hitung deh hahahahahahahahaha.

keunikan berikutnya. Saya dan suami bertemu dan menikah dikala kami sudah ditengah perjalanan kehidupan, sudah punya pengalaman macam-macam walau kadarnya beda-beda. Kebayang, pasutri yang fresh menikah pertama kali di usia sesuai dan memulai bersama-sama saja bisa banyak perbedaan dan ketidakcocokan. Ini newly wed with not so newly age. hahahahahaha.

but overal, i do enjoy marriage life, coming from a 12-year-singleparent-experience. Moreover, I enjoy family with kids. i used to have only one kid, now i have 5. Thanking my husband would never be enough, giving this new life and new experience. Am so ready for us, for this life.

Ini kenapa jadi bahasa inggris sih? hahahhahahahhahahaha

 

Our Double Champions

Kelulusan SMP ini tentu PR terbesar dari orangtua adalah memfasilitasi anak-anak mendapatkan SMA terbaik yang diminati anak dan direstui orangtua (PR terbesar anak, ujian akhir dengan baik).

Januari, kami antarkan Rafa dan Afkar mengunjungi beberapa SMA yang sekiranya cocok dan selalu masuk dalam diskusi, salah satunya Taruna Nusantara Magelang. Sebuah sekolah semi militer, berasrama, yang program utamanya adalah mempersiapkan pemimpin bangsa. Tidak disangka, kunjungan langsung ke SMA TN itu membuat anak-anak menjatuhkan pilihan sekolahnya.

Kami pun lanjut ke tahap pendaftaran dan serangkaian tes. Tes pertama adalah tes akademik, sama dengan matpel UN. Susah? Banget kata anak-anak. Dengar-dengar memang soalnya adalah soal olimpiade matematika. Baiklah. Saya dan ayahnya hanya bisa menguatkan lewat doa. Alhamdulillah tahap ini Rafa dan Afkar lolos.

Tes berikutnya, tes kesehatan (termasuk kesehatan jiwa), dan psikotes. Tahap ini memang anak-anak diperiksa dari ujung rambut sampai ujung kaki, plus mental dan psikologi nya. Alhamdulillah lolos.

Tahap selanjutnya, serangkaian tes yang diadakan di SMA TN di Magelang. Sebelum terbang, memohon doa dari para kakek nenek. Mereka menginap 4 hari utk melakukan tes wawancara (ini esensial) baik tertulis maupun tatap muka, tes kesehatan jiwa yang kedua di RSJ Magelang, tes penempatan IPA/IPS & pantukhir. Selama 4 hari disana mereka diperlihatkan kehidupan berasrama, berkelakuan seperti siswa asrama.

Akhirnya pertengahan juni lalu, pengumuman final pun keluar. Dari hampir 4000 pendaftar, Rafa dan Afkar lolos sampai tahap akhir, masuk menjadi siswa TN angkatan 29 yg menerima hanya 360 siswa. Alhamdulillah sujud syukur.

Selamat anak-anakku Rafa dan Afkar, sudah luar biasa dan semangat melalui seluruh rangkaian tes dan lulus dengan nilai terbaik. Semoga 3 tahun kedepan di SMA TN bisa menjadi pembekalan untuk masa depanmu ya Nak. Bangga ayah mami mendampingi dan menghantarkan kamu berdua😘😘

Terima kasih tak terhingga atas doa & support yg tak henti dari nin ato, oma, kakek nenek, kakung ating, & seluruh keluarga. GroupHug :’)

Liburan Di Jakarta? Ke Kota Tua aja

Perjalanan ke kota tua ini sudah direncanakan, namun saya total lupa bahwa tiap senin semua museum tutup. Wait, it did not hold our journey thou.

Kita mulai dengan naik kereta commuter dari stasiun depok cuss langsung ke destination akhir, stasiun kota tua.

Tiap anak dapat tanggung jawab. Afkar urusan perduitan (segala bentuk bayar, beli, nawar, hitung). Rj urusan dokumentasi (foto, video, cari spot & angle foto, termasuk menyimpan semua gadgets). Nazhif urusan petunjuk arah (map reader, liat petunjuk arah/lokasi yang dituju, cari mushola, exit way). Lisana urusan kebersihan (pastikan buang sampah pada tempatnya, tempat bekal & minum kembali ke tas, cuci tangan). Mami? Supervised lah. Sambil pastikan lisana & nazhif menempel terus di grup. Tidak lupa di awal, briefing mau kemana, naik apa, peraturan standar, & protab kalau terlepas dari grup.

Sampai di st kota tua, karena semua museum tutup (museum bank indonesia, museum bank mandiri, museum fatahillah, dll), kami lanjut ke taman kalijodo dengan kendaraan umum yang hanya memakan waktu 10 menitan. Lanjut makan siang dengan perbekalan yang kita bawa dari rumah. Setelah itu, Lisana dan nazhif puas main dengan fasilitas di RPTRA, ada ruang baca dan main lego, ada permainan ketangkasan (panjat, ayunan, perosotan, jungkat jungkit, dll), namun sayang ketika mau pinjam bola untuk main sepak di lapangan hijau, bola sedang tidak disediakan karena rumput nya sedang dalam perawatan. Tidak lupa, foto-foto karena memang spot nya disediakan seperti tembok graffity, tangga & pegangannya dengan design minimalis, area bermain skate sepeda.

Nah.. karena sayang sudah terlanjur sampai daerah kota tua walau tidak masuk ke museum-museum nya, kamipun lanjut exploring, for the sake of history and foto tentu saja.

Sengaja mami ajak keliling naik bajaj, supaya bisa liat seputaran kota tua tanpa terlalu capek jalan kaki (waktu hanya berdua RJ dulu sih jalan, tapi karena bawa Lisana, mari hemat energi hehe).

Kami kembali naik kereta sampai depok. Sambil perjalanan pulang, mami tidak lupa bertanya “bagian mana yang paling berkesan & disuka?” Rafa menjawab ketika naik kereta (mungkin kali ini karena rute nya lebih panjang), Nazhif ketika di museum fatahillah berfoto dan suasana yang ramai dengan sepeda ontel, Lisana ketika main di ruang publik kalijodo (sampai susah diminta pulang hehe), & afkar menjawab ketika perjalanan pulang mobil kita sempat mogok (mobil mami parkir di st depok baru) Hahahaha… Yap, tiap anak punya bagian terekam nya masing-masing.

Ohya, dari laporan mas Afkar, uang habis sekitar 250.000 untuk trip kali ini dengan kami ber-5, including tiket kereta PP depok-kota-depok, biaya angkot-bajaj-kopaja, makan (untuk melengkapi bekal) & minuman, juga squeezy (karena ngelewatin asemka haha). Dari laporan mas Rafa, foto lebih banyak menggunakan iphone daripada gopro & sekarang sedang tahap pembuatan video blog nya. Kalau mas Nazhif, kebetulan karena ini pengalaman exploring pertamanya ke kota tua, rasa ingin tahu nya besar sekali sehingga banyak berkreatif tambahan apalagi dia dikasih tanggung jawab lihat lokasi & penunjuk arah hehe.. misalnya, suka ngacir sendiri menyusul kakak-kakaknya yang sedang antri tiket padahal mami sudah tetapkan menunggu di titik yang disepakati, atau explore Kalijodo sampai titik pandang pengawasan terjauh.. haha nazhif… nazhif…. Untung ada 3 pasang mata yang awas dan siaga.

Thank you to 4 anak yang luar biasa bekerjasama, terkhusus 2 anak remajaku yang makin bisa diandalkan untuk urusan-urusan seperti menyebrang, antri (sementara kita bisa menunggu sambil duduk), sigap liat gadget perihal what to do next and how to do it (alias punya back up plans), jaga 2 adiknya (& maminya tentu saja), beri kursi di kereta, & masih banyak hal perintil lain yg of course i appreciate.

Mungkin journey ini tidak sepenuhnya semua yang anak-anak sukai, hal ini disengaja agar ada pengalaman-pengalaman hidup yang bisa dipetik dan mungkin disadari di kemudian hari. Value-value seperti saling menghargai, saling melindungi, gerak cepat & ambil keputusan cepat, berkomunikasi dengan baik, bekerjasama, and many more semoga bisa membekas, mungkin tidak sekarang, tapi nanti…

Until our next journey, kids…

DAteam goes to Kota Tua. Photo credit: RJ
DAteam goes to Kota Tua. Photo credit: RJ

Tidur di Mobil

Jika si #baladaAnakBanyak pulang malam dan semua ngantuk

Scene 1

RJ mapan selonjoran di kursi paling belakang

Afkar mapan di kursi samping supir

Nazhif mapan di kapten seat kanan di reclining

Lisana mapan di kapten seat kiri di reclining
(tentu ketika kursi di recline, drama kejepit pun ada..)

Mami Ayah? karena Lisana gak mau kalau gak pelukan sama mami, jadi mami berdua lisana. Ayah, terpaksa ikut nyempil disamping nazhif dengan badan segede itu.. *maafYaYah :p

Scene 2 – RJ out

Nazhif pindah selonjoran di kursi belakang

Afkar dan Lisana masih ditempat yang sama

Tersisa 1 kapten seat

Mami Ayah pun pangku-pangkuan. Pegel dan sakit kejepit ditahan dulu, demi keromantisan… :p

Dining Out

si #baladaAnakBanyak makan di restoran

Nazhif tiap menit “mam, dimana colokan?”

Lisana tiap menit “mam, mau pup. eh ga jadi deh..” lalu jungkir balik kursi bolak balik

Afkar dan RJ ketika ditanya tentang skejul Lebaran keluarga Aditya kompak lantang bilang “udah tau maaaaam!” Ketika ditanya “ok, tell us what do you know?” Salah semua jawabannya.. hedeghhhh….

Lalu mami dan ayah? bolak balik shout SHOBAROOOON :p