Unplanned TimeOut

Ikut suami dinas ke Bali in short notice. Sambil keluarkan jurus rayuan stay di Bali, mengingat pak suami kalau ke Bali hanya kerja saja dan perlu diajak rileks paska hasil lab nya yang bikin ketar ketir.

Pergilah kami berdua, mau ke Ubud namun erupsi gunung agung membuat saya changed plan ke Uluwatu, ke selatan saja biar aman. Orang hotel sempat bingung, kok check in hanya 1 hari 1 malam saja, dimana jarang ditemui tamu stay sependek itu😅.

Well, nebeng dinas kan.. remember?😆

Turns out, pak suami need to relax longer, yeay! So we extend another day with such healthy activities: jalan kaki ke pantai Padang-padang yang hanya 1 km dari hotel, berjemur di pantai (dia sih, saya mah kepanasan😅), nikmati sunset (di Uluwatu spesial nya sunset, ga ada sunrise), makan makanan organik, nge-gym, bener2 tanpa itinerari layaknya turis bule kalau ke Bali. Lay back, santai, kalau mau pergi ya pergi, nggak ya nggak. Ngobrol catching up lots of stuffs. Quality time hubby and I, which every marriage couple needed. Lumayan nge-cas kesibukan suami dari pekerjaan dan kesibukan saya dari mengurus sekolah anak2 yang antar kota antar propinsik itu. Titelnya Mami AKAP :)

We went back home with new spirit, healthier, and stronger connection to one another. Lets roll out this life together, Yah..

1 + 1 = 7

Di pelaminan biasanya melihat 3 pasangan yang menerima ucapan selamat dari tamu: pengantin, orangtua mempelai laki, orangtua mempelai perempuan. YES?

Ini: saya, mas yang sambil menggendong anak no.4, dan 3 anak cowok pertama. Total 6 juga sih. Terkadang ditambah orangtua saya, tergantung tamu yang datang. Untung panggung pelaminan tidak rubuh ya. hehehe…

Lagi-lagi tidak lazim, kita ramai-ramai ber-6 bergandengan tangan memasuki ruang resepsi dari arah belakang gedung. Lalu sambutan shohibul bait, dalam hal ini mas dan saya. Mas mengucap terima kasih atas doa restu keluarga dan teman-teman, menceritakan sedikit perjodohan kita dan tentu memperkenalkan anak-anak yang tanpa dilatih sebelumnya, berdiri teratur dan kalem disamping ayah-mami nya.

“saya dan diba ini, 1 ditambah 1 bukan 2 tapi 7. Jelas bukan matematika biasa, tapi matematika Tuhan.”

Mas membawa 4 anak, si 12 tahun, si 8 tahun, si 4 tahun dan si 7 bulan. Saya dengan si 13 tahun. Total 5 anak melengkapi dan meramaikan 2 orang dewasa yang memutuskan menikah karena tidak lain tidak bukan dari restu anak-anak. Dua anak beranjak remaja pun menjadi patron kami melangkah. Mas bertanya pada anak terbesarnya, pun saya. Tentang memulai keluarga kembali dengan orang baru. Kalau dari pihak saya, tidak sulit karena sudah lebih dari 10 tahun saya dan si anak tunggal menjalani kebersamaan dan seperti sudah saatnya memulai keluarga kembali. Dari pihak mas, ditinggal meninggal oleh sang bunda tentu bukan perkara mudah bagi anak-anak dan mereka merindukan posisi itu terisi kembali. Mendapat lampu hijau dari anak-anak membuat langkah lebih ringan. Memantapkan niat awal.

Masa perkenalan dilalui dengan cepat, bukan karena terburu-buru namun semesta luar biasa mendukung. Anak-anak cepat sekali akrab dengan saya, begitupula sulung saya yang menerima mas dengan tanpa ganjil memanggilnya ayah. Keakraban ini juga tidak dipaksakan, betul-betul mengalir. Semua orang yang menyaksikan sempat bingung dikala si anak perempuan menempel bergalendot dengan mami baru nya. Saya pun kagum dengan penyesuaian cepat anak-anak terhadap istri dari ayahnya, dan suami dari ibu nya.

Seru mengarungi bahtera rumah tangga yang tadinya hanya berdua menjadi berenam! Belum lengkap bertujuh, karena anak ke-5 kami masih dititipkan kepada ibu susunya, sehingga belum bergabung sampai waktu yang ditentukan. Dari yang tidak punya suami menjadi ada suami, dari 1 anak menjadi 5 anak. Jomplang? awalnya saya berpikir begitu, namun mas sampaikan:

“Saya punya keyakinan bahwa kamu bisa, kamu punya modal untuk menjadi ibu dari 5 anak, dan tidak ada saat yang lebih tepat dari sekarang.”

Ah menyenangkan, terima kasih atas kepercayaan ini. Betapa berwarnanya hidup! Let’s embrace what has God planned for you.

ALHAMDULILLAH…

Ketika Tangan Tuhan Bekerja

Siang itu di pelataran masjid di bilangan Jakarta Pusat, 4 Syawal 1437H, saya janjian dengan teman yang merupakan ustad baik hati. Janjian yang menjadi pengubah hidup.

Sang ustad tidak sendiri, beliau membawa temannya. Iya, untuk dikenalkan kepada saya. Lelaki itu memakai baju putih lengan panjang, berkaca mata. Hanya itu yang berhasil saya lihat, karena tidak berani menatap lebih lama. Malu.

Kami berjalan menuju rumah kerabat ustad kira-kira 500 meter. Perkenalan kami pertama pun, ya ditengah jalan. Literary, tengah jalan aspal! hahaha. Pak ustad, “Kak Diba ini Pak Yana, Pak Yana ini Diba” Dia mengulurkan tangannya duluan, saya sambut. Disitulah pertama kali kami saling lihat. Lalu, tin tin tin…. bunyi klakson, ya motor lewat, bikin buyar. Siapa suruh kenalan ditengah jalan hehehe.

Ngobrol beneran pun terjadi sejam setelah kenalan ditengah jalan itu, di restoran makan padang! Karena jam makan siang dan lapar, jaim pun terlupa, makan tetap pakai tangan, lahap, tambah pulak hihihi… Pak ustad yang merasa menjadi mak-comblang pun meneruskan aksinya. Mempromosikan saya ke temannya, mempromosikan temannya ke saya. Lalu dengan logat betawi kentalnya “Tukeran nomor telpon dong! biar enak gituuu…” disambut ketawa lebar semua yang mendengar. Semua, karena bukan hanya kami bertiga disitu, ada istri dan anak-anaknya ustad, adek saya dan keluarga kecilnya yang menemani saya dari awal – yak banyak ajah! hahaha…

Salah satu pertanyaan yang dilontarkan ke saya saat itu adalah, “saya duda anak 4, menurut adik gimana?”

Jujur saya tidak kaget dengan konteks pertanyaan itu, namun saya paham benar mengapa harus dikeluarkan. Di benak saya, lelaki ini serius cari istri. NICE! Obrolan mengalir sampai lupa kalau itu hari kerja dan kita semua harus kembali beraktivitas. Saya pun tenggelam dengan kesibukan sisa hari, sampai HP saya muncul notifikasi yang tidak bisa dicuekin begitu saja. Hey, si mas WA…

Malam itu kami ngobrol di telepon 4 jam! Seperti teman lama yang sudah lama hilang kontak. Ada rasa nyaman, chemistry terbangun. Satu kata yang tepat mewakili: KLIK.

Kurang dari sebulan, pertemuan di tengah jalan itu berlanjut ke pelaminan. Banyak yang bersyukur, banyak juga yang skeptis. Tentu tidak perlu di consider pemikiran yang kedua, karena kami memilih untuk mensyukuri nikmat dan niat baik untuk memulai hubungan ini ke kehidupan yang lebih nyata, yaitu pernikahan dan berumahtangga.

Kok bisa secepat itu. Kami pun tidak tahu, yang kami tahu ada campur tangan Tuhan. CaraNYA mempertemukan 2 insan, dipersiapkan dengan kondisi masing-masing: si mas dengan 4 anak yang merindukan sosok ibu, saya yang dari dulu selalu menginginkan punya anak banyak. Si mas dengan perjalanan karir yang menantang bertemu dengan saya yang selalu mencari-cari kegiatan yang tidak biasa. Dan masih banyak hal printilan lain yang intinya saling melengkapi.

Kalau dipikir-pikir, lucu juga ya 2 orang yang sebelumnya tidak saling mengenal, nyambung, lalu menyegerakan menikah. Menyatukan 2 keluarga, wait… tepatnya 6 keluarga: orangtua mas, mertua mas, orangtua saya, mertua saya, keluarga kecil mas, keluarga kecil saya. Semakin besar lingkaran extended-family-nya. Alhamdulillah.

Adik saya sampai berkata “akhirnya ada contoh nyata yang bisa disampaikan ke anak-anak perempuan kita tentang taaruf, bukan sekedar lihat di film atau baca buku, tapi kakak sendiri mengalami”

Menyenangkan, bertemu dengan lawan jenis yang se-visi dan mencari hal yang sama di kehidupan, dan berharap dengan bersatu semakin kuat dan kokoh untuk tabungan akhirat dan menghantarkan anak-anak. Aamiin.

Seperti pepatah, “Kalau sudah jodoh, tak kan lari kemana…”

BISMILLAH

 

 

 

 

PS: Kami pun kini sedang asyik berpacaran…. ya setelah menjadi suami-istri :)