Sentuhan Maskulin Dibutuhkan oleh Pendidikan

Saya berada di sekolah anak untuk menonton assembly kelas, yaitu penampilan seni tari, menyanyi, dan acting. Antusias karena ini pertama kali saya melihatnya manggung dari jarak 2 meter saja. Saya menikmati seluruh penampilan dari awal sampai akhir, sesekali memulai tepuk tangan dikala penonton terlalu sunyi entah karena terpana atau tipikal orang indonesia yang agak sulit memberikan tepukan kecuali diakhir penampilan itu pun jika diminta oleh MC. Lebih menikmati karena pihak guru sebagai pelatih menambahkan bumbu komedi pada script drama anak-anak, tidak ketinggalan sound yang mantap nyaringnya untuk aula sebesar itu. Ohya dan satu lagi, guru-guru menambahkan tayangan layar dengan foto-foto tiap anak dan keluarganya. Ah mengesankan

Satu hal yang ingin saya garis bawahi yang semoga bisa menjadi input bagi para pendidik dan pengasuh, adalah gerakan para siswa laki-laki yang kurang sentuhan maskulinitas. Ketika bernyanyi, anak laki-laki gerak langkah kaki kiri-kanan, untuk ini perempuan bisa menampilkan gemulai ditambah tangannya ikut menari. Ketika laki-laki menari, tidak ada power/tenaga sepanjang gerakan, menendang hanya menendang pura-pura dan pendek, meloncat sekedar jinjit. Capek kah? Atau gerakannya memang cukup boring bagi anak laki-laki? Ketika acting, peran seperti petani, pilot, masinis, pengusaha, anggota DPR RI, TNI, yang sudah dengan kostum gagahnya masing-masing, lagi-lagi diberi gerakan langka kaki kiri-kanan saja. Jujur saya tegaskan ulang: kurang sentuhan maskulin.

Iya, memang ini penampilan anak-anak kelas 4 SD, namun bijak rasanya jika disesuaikan saja porsi gaya perempuan dan laki-lakinya. Khusus untuk gerakan laki-laki dalam berkesenian, POWER adalah segalanya, agar membedakan dengan gemulainya gaya perempuan.

Tentu ini menjadi concern, karena saya memiliki 3 anak laki-laki, dan punya pengalaman mengawal lebih dari 40 remaja laki-laki usia SMA di yayasan yang saya asuh, lalu kini dosen untuk mahasiswa S1 dimana banyak remaja laki-laki yang masih belasan tahun terlihat lemas, tidak semangat, bergerak lambat. Terus terang, agak risih jika dihadapan saya terlihat sosok yang tidak bergerak cepat, apalagi laki-laki.

Saya dapat data dari teman, tentang prosentase guru menurut jenis kelamin dan jenjang sekolah, menurut Kemendikbud. Dari 100 responden guru SD perempuan 62.98%, laki-laki 37.02%. Guru SMP perempuan 43.03%, laki-laki 56.97%. Guru SMA dan SMK perempuan 53.72%, laki-laki 46.28%. Guru SD sungguh signifikan jauh lebih banyak berjenis kelamin perempuan dibanding laki-laki. Usia SD yang durasinya paling lama diantara jenjang sekolah lain, yaitu 6 tahun, dihadapkan dengan feminitas. Sedikit banyak berpengaruh pada 5 hari sekolah dikali @6-8 jam berada di sekolah.

Benar bahwa pendidikan dan pengasuhan memang pada mayoritasnya menjadi porsi perempuan: di rumah dengan ibu, di sekolah dengan ibu Guru. Meanwhile, merefer pada buku Budaya Organisasi Achmad Sobirin, terdapat negara yang maskulin dan feminin. Ini menarik. Mengingat Indonesia merupakan negara yang menganut budaya patrilineal.

Sobirin membedakan masyarakat maskulin dan feminin, yang saya kutip beberapa saja. Negara maskulin seperti Jepang, Inggris Raya, Jerman, Austria, Meksiko. Negara Feminin seperti Swedia, Norwegia, Belanda, Denmark, Finlandia, Thailand, Guatemala. Negara maskulin secara umum meletakkan nilai-nilai masyarakat dominan pada kemajuan ekonomi, sementara negara feminin dominan pada kepedulian & menjaga hubungan dengan orang lain. Di dalam keluarga masyarakat maskulit, seorang ayah lebih banyak berhubungan dengan fakta dan realita, ibu dengan perasaan. Masyarakat feminin, baik ayah maupun ibu bersama-sama memperhatikan fakta sekaligus perasaan. Dilihat dari cuplikan Sobirin diatas, Indonesia masuk ke kategori negara maskulin.

Pendidikan di Indonesia memerlukan sentuhan maskulin. Bahwa perlu jumlah yang lebih banyak akan bapak-bapak guru. Bahwa institusi pendidikan bijak jika mempertimbangkan mempekerjakan 50-50 guru perempuan-laki. Serta diingatkan bahwa anak-anak usia TK dan SD pun difasilitasi untuk  berkegiatan berbau maskulinitas.

Sementara di rumah, para ibu yang tentu mendapat daulat lebih banyak dalam pengasuhan sehari-hari, mengarahkan anak laki-lakinya kepada perilaku dan kegiatan yang mengasah sisi maskulin. Bertingkah laku sehari-hari diajarkan lebih gentlemen: menghormati perempuan baik ke ibu kaka adik, membebankan house-chores yang lebih ke fisik, berikan tanggung jawab lebih semisal menjaga adik. Sementara pekerjaan seperti memasak, mencuci  yang mungkin ranah feminin di rumah tangga, sangat baik diperkenalkan. Tujuannya tentu diniatkan untuk pembekalan menjadi individu yang mandiri kelak.

Bagaimana peran bapak dalam pendidikan dan pengasuhan? wah itu satu tulisan lagi… :)

Berkompetisi: Bukan Menang Kalah, Namun Ajang Melatih Mental

I have never set a bar for my kids to get medal or trophy. Mencoba lebih menghargai proses dibanding hasil. Hal ini saya tekankan bukan hanya untuk anak-anak, tapi juga saya sebagai orangtua: konsistensi mendukung dan mendampingi every little steps, yang ternyata tidak mudah karena terkadang situasi sekitar menuntut lebih.

Alhasil, jika anak bisa mencapai satu prestasi yang membuahkan medali atau piala, buat kami itu BONUS. Menjadi sebuah rekognisi dan penghargaan atas USAHA dan PROSES selama ini.

Jujur dan tanpa berlebihan, saya selalu membiasakan ajak anak-anak untuk refleksi dan evaluasi paska kompetisi, karena dibalik hasil yang diraih ada banyak sekali lesson learnt. Taruhlah seperti, betapa memenej waktu itu hal esensial yang jika tidak dilakukan bisa runyam. Menghargai komitmen orang lain yg berada dalam tim dengan datang tidak telat dan aktif berpartisipasi. Melakukanperencanaan dan persiapan dengan baik dan cukup. Mengerjakan pekerjaan rumah sebagai bentuk pengingat, dan masih banyak lagi.

Sebagai orangtua yang dalam hal ini berperan sebagai fasilitator, bijak jika kerap ingatkan anak bahwa dalam satu kompetisi ada yang menang ada yang tidak. Jika belum menang itu artinya pemicu untuk kita berlaku lebih baik lagi di kemudian. Terima dengan sportif. Lagi2, usaha nya lah yang kita hargai dan menjadi pembahasan. Jika terbukti belum maksimal, diperbaiki. Jika terbukti ada kesulitan, dicari solusi. Jika terbukti ada missed management, diarahkan. Jika terbukti ada kurang kordinasi, efektifkan komunikasi. Kalah terkadang malah menjadi pembelajaran nomor satu untuk terus berkembang dan tidak putus sampai disitu sahaja.

Kalah itu momen untuk introspeksi diri. Menang itu momen untuk tidak berpuas diri

Kompetisi, sebenarnya tidak hanya sekedar mengejar embel-embel juwara, namun dapat difungsikan sebagai ajang meningkatkan rasa percaya diri, mengukur diri, tidak lupa juga membantu anak untuk menjadi sportif, berjiwa profesionalitas, dan terpenting, mengasah mental.

Karena Nak, diluar sana, hidup tak lepas dari kompetisi. Bersiaplah.

EE25606A-54E3-4690-A047-065406228241

Liburan Di Jakarta? Ke Kota Tua aja

Perjalanan ke kota tua ini sudah direncanakan, namun saya total lupa bahwa tiap senin semua museum tutup. Wait, it did not hold our journey thou.

Kita mulai dengan naik kereta commuter dari stasiun depok cuss langsung ke destination akhir, stasiun kota tua.

Tiap anak dapat tanggung jawab. Afkar urusan perduitan (segala bentuk bayar, beli, nawar, hitung). Rj urusan dokumentasi (foto, video, cari spot & angle foto, termasuk menyimpan semua gadgets). Nazhif urusan petunjuk arah (map reader, liat petunjuk arah/lokasi yang dituju, cari mushola, exit way). Lisana urusan kebersihan (pastikan buang sampah pada tempatnya, tempat bekal & minum kembali ke tas, cuci tangan). Mami? Supervised lah. Sambil pastikan lisana & nazhif menempel terus di grup. Tidak lupa di awal, briefing mau kemana, naik apa, peraturan standar, & protab kalau terlepas dari grup.

Sampai di st kota tua, karena semua museum tutup (museum bank indonesia, museum bank mandiri, museum fatahillah, dll), kami lanjut ke taman kalijodo dengan kendaraan umum yang hanya memakan waktu 10 menitan. Lanjut makan siang dengan perbekalan yang kita bawa dari rumah. Setelah itu, Lisana dan nazhif puas main dengan fasilitas di RPTRA, ada ruang baca dan main lego, ada permainan ketangkasan (panjat, ayunan, perosotan, jungkat jungkit, dll), namun sayang ketika mau pinjam bola untuk main sepak di lapangan hijau, bola sedang tidak disediakan karena rumput nya sedang dalam perawatan. Tidak lupa, foto-foto karena memang spot nya disediakan seperti tembok graffity, tangga & pegangannya dengan design minimalis, area bermain skate sepeda.

Nah.. karena sayang sudah terlanjur sampai daerah kota tua walau tidak masuk ke museum-museum nya, kamipun lanjut exploring, for the sake of history and foto tentu saja.

Sengaja mami ajak keliling naik bajaj, supaya bisa liat seputaran kota tua tanpa terlalu capek jalan kaki (waktu hanya berdua RJ dulu sih jalan, tapi karena bawa Lisana, mari hemat energi hehe).

Kami kembali naik kereta sampai depok. Sambil perjalanan pulang, mami tidak lupa bertanya “bagian mana yang paling berkesan & disuka?” Rafa menjawab ketika naik kereta (mungkin kali ini karena rute nya lebih panjang), Nazhif ketika di museum fatahillah berfoto dan suasana yang ramai dengan sepeda ontel, Lisana ketika main di ruang publik kalijodo (sampai susah diminta pulang hehe), & afkar menjawab ketika perjalanan pulang mobil kita sempat mogok (mobil mami parkir di st depok baru) Hahahaha… Yap, tiap anak punya bagian terekam nya masing-masing.

Ohya, dari laporan mas Afkar, uang habis sekitar 250.000 untuk trip kali ini dengan kami ber-5, including tiket kereta PP depok-kota-depok, biaya angkot-bajaj-kopaja, makan (untuk melengkapi bekal) & minuman, juga squeezy (karena ngelewatin asemka haha). Dari laporan mas Rafa, foto lebih banyak menggunakan iphone daripada gopro & sekarang sedang tahap pembuatan video blog nya. Kalau mas Nazhif, kebetulan karena ini pengalaman exploring pertamanya ke kota tua, rasa ingin tahu nya besar sekali sehingga banyak berkreatif tambahan apalagi dia dikasih tanggung jawab lihat lokasi & penunjuk arah hehe.. misalnya, suka ngacir sendiri menyusul kakak-kakaknya yang sedang antri tiket padahal mami sudah tetapkan menunggu di titik yang disepakati, atau explore Kalijodo sampai titik pandang pengawasan terjauh.. haha nazhif… nazhif…. Untung ada 3 pasang mata yang awas dan siaga.

Thank you to 4 anak yang luar biasa bekerjasama, terkhusus 2 anak remajaku yang makin bisa diandalkan untuk urusan-urusan seperti menyebrang, antri (sementara kita bisa menunggu sambil duduk), sigap liat gadget perihal what to do next and how to do it (alias punya back up plans), jaga 2 adiknya (& maminya tentu saja), beri kursi di kereta, & masih banyak hal perintil lain yg of course i appreciate.

Mungkin journey ini tidak sepenuhnya semua yang anak-anak sukai, hal ini disengaja agar ada pengalaman-pengalaman hidup yang bisa dipetik dan mungkin disadari di kemudian hari. Value-value seperti saling menghargai, saling melindungi, gerak cepat & ambil keputusan cepat, berkomunikasi dengan baik, bekerjasama, and many more semoga bisa membekas, mungkin tidak sekarang, tapi nanti…

Until our next journey, kids…

DAteam goes to Kota Tua. Photo credit: RJ
DAteam goes to Kota Tua. Photo credit: RJ

Anak Muda Indonesia

Menyenangkan bisa selalu diberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan para anak muda. Sebagai ketua yayasan Muslim Jabal Haq sejak 2011, saya menjadi orangtua asuh dari remaja yang kami bina selama 3 tahun yang ditempatkan di SMA/SMK. Jumlah mereka tidak sedikit, 40 orang. Saya dan tim menjelajahi pelosok beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan demi (saat itu) mencari calon-calon penerima beasiswa dengan kriteria tertentu, yaitu yatim/dhuafa dan cerdas. Selama kebersamaan sudah menginjak 5 tahun ini, saya punya beberapa cerita dan anggapan perihal karakter para anak muda. Kesempatan lain, saya merupakan dosen dari mahasiswa S1 yang berusia kisaran 17-19 tahun. Di kedua kesempatan yang merupakan ranah pendidikan itulah dimana saya bisa observasi langsung perkembangan para anak muda.

Anak muda, si pemegang kunci dari generasi penerus bangsa. Tidak sedikit dari mereka yang karakternya bercatatan. Sebut saja, sifat acuh, tidak sensitif, tidak peduli, kurang bertanggung jawab, tidak mandiri dan kerap bergantung pada dewasa didekatnya (ini dari mulai membuka botol minuman sampai tidak mahir naik umum). Semua ini tentu mengarah membentuk mereka kepada ketidakpedean, tidak mampu mengambil keputusan, ikut arus saja alias mainstream, kurang kreatif dan tidak berani berkarya, dan lainnya. Padahal masa muda lah tempat dan waktunya banyak melakukan dan mencoba hal baru, memulai dan menciptakan sesuatu, berbuat untuk lingkungan dan masyarakat, menghargai leluhur, sejarah dan elevate hal itu kepada kekinian.

Observasi saya ada pada beberapa faktor penyebab,

One click away. Dunia maya adalah godaan terbesar untuk mager (males bergerak) dari mulai main game, youtubing, browsing. Hal ini menahan anak muda dari berkegiatan outdoor, bermasyarakat, berkomunikasi dan melatih diri di situasi sulit. Apalagi kini semua hal itu bisa dilakukan di gadget kecil yang ada di tangan.

Dimanjakan dan kurang perhatian. Orangtua kerap menyerahkan anak ke sekolah, berasumsi sekolah tempat aman dan terbaik padahal tidak selalu. Tetap diperlukan pengawalan dan pengawasan. Di sekolah mereka bisa saja curang, tertekan, beban, lalu sesampainya di rumah, kembali diberondong dengan peran dan tugas lain. Orangtua yang terlalu sibuk dan kebersamaan dengan anak merupakan waktu sisa, hal ini membuat anak menjadi tidak peduli dengan kehadiran dan keberadaan orangtua nya. Banyak juga yang akhirnya membayar kesibukan itu dengan memanjakan secara materi dan akhirnya anak terlena dan menggunakan senjata itu untuk terus minta apapun yang dimau.

Tidak maksimal pengasuhan dari kecil. Menyusui merupakan awal dari kelekatan anak dan orangtua. Menyusui lebih dari sekedar memberikan makan (ASI) tapi juga dekapan, pelukan, tatapan, hangat, dan tentu saja nutrisi yang membuat mereka sehat wal afiat secara lahir dan batin. Disusui selama 2 tahun atau lebih tidak hanya membentuk IQ yang diatas rata-rata, namun juga Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ) yang dipersiapkan dan dilatih untuk bekal kemudian hari. Orangtua tidak berpikir panjang perihal kelekatan masa kecil ini, dengan mudahnya memberikan pengganti ASI yang tentu memiliki resiko besar saat mereka mendewasa. Pemberian nutrisi yang baik (dan tidak harus mahal, Indonesia begitu kaya beragam jenis makanan bergizi bagus) dan kasih sayang juga merupakan kunci asah asih asuh.

Ingat, usia anak sampai 18 tahun, artinya mereka difasilitasi untuk mendapatkan hak mereka. Jika saja ada faktor diatas yang tidak diberi atau tanpa pengawasan, tidak heran memang generasi penerus ini menjadi PR dan momok. Nantinya mereka akan menjadi para dewasa yang harus mencari pekerjaan, berumah tangga, menjadi orangtua, dan hidup bermasyarakat. Alangkah sayangnya jika mereka terbentuk tidak maksimal dan tidak berguna bagi lingkungannya.

Rasanya kita perlu memberikan perhatian kepada anak muda ini. Ikut bertanggung jawab untuk generasi bangsa yang lebih baik, mumpuni dan ber-skillful

Menyusui dan Pengasuhan

Apa sih hubungannya menyusui dengan pengasuhan? ERAT.

Menyusui merupakan awal membentuk hubungan batin dan kelekatan emosi antara ibu-anak.

Menyusui melebihi sekedar memberikan makan tapi juga interaksi fisik seperti menggendong memeluk mendekap membelai menatap.

Menyusui mengajarkan ibu menjadi responsif (cepat tanggap) sehingga anak merasa diperhatikan dan akhirnya tidak sering menangis dan rewel,

Menyusui merupakan bentuk memberikan afeksi dan kehangatan yang berujung menjadikan anak percaya diri dan mandiri karena diberikan kepercayaan oleh orangtuanya sejak dini.

Menambah panjang daftar benefit menyusui ya!

Manjakan Anak Itu Perlu

Siapa yang tidak suka dipeluk?
Siapa yang tidak suka dibelai?
Siapa yang tidak suka dielus?
Siapa yang tidak suka diusap?
Siapa yang tidak suka dipijat lembut?
Siapa yang tidak suka didekap?
Siapa yang tidak suka digandeng tangan?
Siapa yang tidak suka dicium-cium?

Jika ada, artinya dia haus kasih sayang. Artinya, tidak terbiasa.

Simple. Semua orang butuh kehangatan

Beruntunglah, jika semasa kanak-kanak dan bertumbuh diperlakukan hangat oleh bapak, ibu dan/atau orang terdekat. Why? Karena saya percaya, kehangatan menjadi salah satu kunci utama pembentukan karakter seseorang.

Telah banyak bukti, orang-orang sukses, jika membaca biografi mereka, tidak terlepas dari mengisahkan bagaimana kedekatan mereka dengan orangtua dan menjadikan orangtua sebagai role-model. Bagaimana orangtua mereka dahulu memberikan cinta tulus lewat sentuhan. Telah banyak kisah orang sukses beranjak dari kekurangan (baca: kemiskinan), namun pasti berbekal cukup kasih sayang. Hanya itu modal awalnya.

Apakah memberikan sentuhan, belaian, sayang, berarti memanjakan?Berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia manja adalah:
manja /man·ja/ a 1 kurang baik adat kelakuannya krn selalu diberi hati, tidak pernah ditegur (dimarahi), dituruti semua kehendaknya, dsb: krn anak bungsu, ia sangat –; 2 sangat kasih, jinak, mesra (kpd): anak itu sangat — kpd kakeknya; kucing itu — sekali kpd tuannya;— diri gejala yang normal pada anak-anak usia antara 4—6 tahun untuk selalu memperoleh perhatian orang tua atau lingkungannya terhadap diri sendiri, biasanya disebabkan oleh terpecahnya perhatian orang tua kepada adiknya atau karena makin berkurangnya perhatian orang tua bersamaan dengan makin besarnya anak itu;

Terlihat di atas, arti manja berkonotasikan negatif, mengikutkan semua kehendaknya. Nah… Kebanyakan orangtua memanjakan dengan mengikuti apa yang dimau anak dengan materi, yang sifatnya konsumtif. Hal ini biasanya dilakukan untuk menutupi atau mengganti waktu dan perhatian yang tidak dapat diluangkan pada anak selama bekerja/bepergian keluar rumah.

Tapi… itukan yang common. Baik juga kalau kita lihat makna/arti kata manja yang kedua pada KBBI, yaitu sangat kasih, jinak, mesra (kpd)

Memanjakan anak dengan menaburkan kasih sayang dan cinta
Menaburkan, layaknya tanaman ditabur pupuk, pasti akan tumbuh dengan segar dan proper. Begitu pula, manusia. Jangan tanya sebesar apa efeknya jika semasa kecil dan bertumbuh, dipupuki cinta kasih tak berujung, kehangatan (baca: kemesraan) tak berbatas. Long term effect!

Kalau ingin menunjukan kemesraan pada anak, berikan dengan tulus sentuhan-sentuhan kasih sayang itu.  Jangka panjangnya dapat membantu membentuk karakter: perhatian, peduli, percaya diri, peka, kekeluargaan, memikirkan sekitar, mudah bersosialisasi, friendly, enak diajak ngobrol, ramah, senang berbagi, mampu menyatakan sayang, dan masih banyak lagi. Tentu jika selalu dipelihara, dilakukan, dikomunikasikan.

Mari menambah arti harfiah dari manja. Sehingga manja dalam arti konotatif dapat tergeser dengan manja yang berarti kasih dan romantisme.

Manja/a 1 Berbicara lembut; 2 Menatap mata dalam; 3 Berdiri sejajar sama tinggi; 4 Aktivitas menyentuh kulit badan atau berdekatan — memeluk, membelai, menyusui, mencium, mendekap, mengelus, mengusap, memijat, memegang tangan. (Berdasarkan kamus besar bahasa farahdibha)

Sentuhan Fisik
Hubungan orangtua dan anak berdekatan secara fisik sudah terjadi sejak dalam kandungan, bukan?

Ibu mengandung 9 bulan, dimana janin telanjang. Selama 9 bulan itu janin bersentuhan langsung dengan ibu. Lalu, dilanjutkan proses menyusui/meneteki yang jelas bersentuhan kulit pula, yaitu payudara ibu dengan badan bayi. Bisa dimaksimalkan lagi dengan ibu dan bayi tidak memakai atasan hanya bawahan saja selama sedang meneteki.

Pernah mendengar skin-to-skin contact? Yaitu kontak kulit bayi dan ibu/bapaknya, berguna untuk menghangatkan bayi, menenangkan tidak hanya bayi tapi juga ibunya, memperlancar hormon oksitoksin (hormon pengaliran ASI yang biasa disebut hormon cinta). Tidak sekedar bersetuhan, namun banyak kegunaan yang belum banyak orang sadar.

TOUCH, “bahasa” yang dipelajari sejak bayi, yang artinya bersentuhan, merupakan poin maha penting dalam pengasuhan. Jika dilewatkan atau tidak sering dipraktekkan, akan berpengaruh kedalam diri seorang individu. Misalnya, menjauhkan diri dari sekitar, cepat emosi, mudah tersinggung, kurang peka, sulit berkomunikasi verbal, dan lain sebagainya. Seperti dikatakan Rick Chillot dalam Psychology Today “Touch is the first sense we acquire and the secret weapon in many a successful relationship.” (Sentuhan adalah indera pertama yang kita dapat dan merupakan senjata rahasia dalam berbagai macam hubungan sukses).

Menyentuh adalah komunikasi non-verbal untuk mengirimkan dan menerima sinyal emosi.

Psychologist Matthew Hertenstein, pada tahun 2009 mengatakan “we have an innate ability to decode emotions via touch alone!” (kita memiliki kemampuan bawaan untuk memecahkan kode emosi melalui sentuhan saja!)

Bau Tangan
Familiar dengan 2 kata itu kan? Orangtua kita dahulu mengartikan bau tangan ini dengan anak yang tidak mau terlepas dari ibu dan selalu minta digendong. Bau tubuh ibu yang selalu ingin dicium dan dirasakan anak, sehingga si anak tidak mau dengan orang lain selain ibu. Mengalami ini? BAGUS! Kita ambil hikmahnya dan nikmati. Silahkan gendong anak, silahkan lengket dengan anak. Why? Satu, menggendong merupakan proses mendekap erat yang disukai anak-anak karena bentuk kenyamanan berdekatan dengan orang yang dicintainya, dan orang yang paling dibutuhkannya saat itu. Hal ini menjadi modal kedekatan kita si orangtua sampai akhir hayat anak. Dua, keinginan digendong ini tidak akan berlangsung lama, segera setelah anak sadar serunya berlari-lari, anak akan memilih bergerak. Segera setelah anak sadar melakukan apa-apa sendiri adalah mengasyikkan, anak akan memilih mandiri. Jadi buat apa segera mengakhiri proses berdekatan ini di tahun-tahun awal kehidupan anak? Sungguh, lagi-lagi bedakan dengan memanjakan.

Menyusui Modal Awal
Begitu pula dengan menyusui. Proses menyentuh yang powerful. Bayangkan, selain kontak kulit bayi dengan ibu nya, anak berdekatan dengan detak jantung ibu dan merasakan apa yang ibu rasakan. Detak jantung berdebar artinya ibu sedang insecure (takut, marah), si anak yang sedang berdekatan itu akan ikut merasakan, dan mungkin menjadi tidak karuan juga dan diakhiri menangis atau rewel. Semua ibu menyusui diluar sana paham dengan situasi ini, betul? Ingat, bahwa menyusui bukanlah berhenti pada proses pemberian makan saja, tapi menyusui pada payudara merupakan proses menggendong, mendekap, menyentuh, mengelus, menatap, you name it, komunikasi non-verbal yang efeknya luar biasa. Karena dilakukan berulang-ulang, sering, selama bertahun-tahun. Tercipta BONDING.

Percayalah, ini modal awal pembentukan karakter.

Selanjutnya, anak-anak beranjak usia, tidak berhenti memanjakan dalam bentuk pelukan, elusan di kepala, tatapan hangat saat dia bercerita, mencium pipi/kening, gandengan tangan, merangkul, dan terkadang tidur bareng di kamar anak/ruang keluarga. Menjaga romantisme lewat sentuhan.

Sebuah kisah dari suku Papago, suku Indian di Benua Amerika. Anak-anak Papago yang seolah-olah mendapatkan kemanjaan dari orangtua nya, seperti bayi selalu digendong dan mendapatkan kasih sayang/afeksi serta kehangatan yang besar. Setelah dewasa, anak-anak Papago ini justru menjadi mandiri dan tidak memperlihatkan ketergantungan dan tuntutan perhatian dari orangtuanya. Mereka pekerja keras dan mau meninggalkan komunitasnya untuk merantau mencari uang, namun keterikatan kepada keluarga nya tetap kokoh. Anak yang masa kecilnya puas mendapatkan afeksi, menjadi lebih kalem dan mandiri. (Rohner, 1975)

Jadi, apakah memanjakan dengan kasih sayang itu perlu?
Tidak hanya perlu, namun PENTING.