Unique Family of Mine

Mih, keluarga kita itu keluarga unik

itu yang dikatakan suami saya, mengingatkan bahwa penggabungan 2 keluarga menjadi 1 memang menjadi tidak biasa .

Setiap 10 hari terakhir ramadhan dan Lebaran misalnya, anak-anak dari suami saya akan mengunjungi kakung dan yangti nya di Solo. Keluarga Solo merupakan keluarga besar Almarhumah Bunda. Disana mereka berkumpul bersama karena tradisi yang diterapkan sejak awal, yaitu pulang kampung. Artinya, di hari-hari spesial tersebut (baca: Lebaran), sudah pasti formasi keluarga saya tidak lengkap. Kebalikan dari keluarga kebanyakan dimana ketika lebaran menjadi ajang berkumpul dan dari segala penjuru datang ke satu titik, rumah orangtua/kakek nenek/yang dituakan. Lebaran, saya dan suami yang notabene punya 5 anak total, hanya berduaan. Solat Ied berduaan, sungkeman berduaan. Alhamdulillah kalau makan sih gak berduaan, kita pakai trick open house, langsung panggil2in tetangga untuk makan bareng di rumah setelah solat Ied. Hari ke-2 syawal bianya suami dan saya menyusul anak2 ke Solo deh.

Ok, mungkin harus dijelaskan dulu letak keunikan keluarga saya ini. Menikah 2016: Suami dengan 4 anak, saya dengan 1 anak. Yak walau punya anak 5, kita ber-7 tidak tinggal dalam satu atap kesehariannya. 2016-2018 formasi tempat tinggal di 4 titik: Jakarta-Depok-Serang-Solo. Jakarta, anak saya yang tinggal bersama ibu bapak saya karena sekolahnya di Jakarta. Depok, rumah suami yang tentu kini menjadi tempat tinggal tetap saya bersama anak ke 3 dan 4. Depok yang sekiranya banyak orang tahu terletak berdampingan dengan jakarta, tetap terlalu jauh untuk jarak rumah-sekolah-rumah, makanya anak saya tetap tinggal di jakarta demi menyelesaikan sekolahnya yang terletak 13 km dari rumah kakek neneknya (itu saja terhitung jauh kan). Serang, pesantrennya anak pertama dari suami saya. Yang artinya boarding school, baik sekolah maupun tempat tinggal. Solo, anak bungsu suami saya tinggal bersama Bulek yang juga ibu susu dari anak kami yang kini berusia 2.5 tahun. Nah mid 2018, ya baru-baru ini, formasi tempat tinggal berkurang menjadi 3 titik: Depok-Solo-Magelang. Mayaaaaan, walau titel mamah AKAP masih dibahu saya hihihi. Depok remain the same, tempat tinggal kami, jadi domisili KTP dan KK. Solo pun masih ada anak bungsu kami, dan kini Magelang, SMA nya 2 remaja kami yang happendly to be satu angkatan, walau usia terpaut 8 bulan.

ini leads ke poin unik berikutnya, ketika 2 anakmu berada di satu sekolah satu angkatan, tentu semua orang akan bertanya:

Kembar ya?
Nggak.

Adik Kakak?
Iya.

Kok bisa?
Bisa.

Oh, yang satu anak akselerasi ya bu?

Karena sesungguhnya sang oponen tidak mungkin menyampaikan, Oh anak ibu yang 1 pernah tinggal kelas ya? yekaaaan hahaha…

Sampai satu hari salah satu guru di sekolah mereka:

Kembar?
tidak pak

Adik kaka?
iya

satu ibu?
nggak.

JACKPOT! Finally ada yang mampu berpikir sampai kesana. Hats off you Sir

Kan saya tidak perlu menjelaskan kepada semua orang yang bertanya toh. Jadi gini mbak/pak, saya menikah lagi (timbul tanda tanya oponen: kenapa menikah lagi, mana suaminya yang pertama, cerai hidup atau mati, berapa lama dia menjanda, gimana cari duitnya, dll); suami saya juga menikah yang kedua kali (timbul tanda tanya oponen: apakah poligami? istri keberapa? sama istri sebelumnya cerai hidup atau cerai mati, berapa lama menduda, dll); Suami saya bawa 4 anak (timbul tanda tanya oponen: banyak amat anaknya, kok bisa, emang kemana ibunya, kalau cerai hidup kenapa semua di suami, sebelum nikah siapa yang taking care anaknya, dll). Belum lagi kalau saya tambah dengan cerita: iya kalau anak saya, ayahnya meninggal dunia, anak-anak suami saya bundanya meninggal dunia (timbul ekspresi kasihan yang tidak berkesudahan). belum lagi cerita tentang 5 anak kami tinggalnya di kota yang berbeda-beda (timbul tanda tany……ah sudahlah!) jontor bibir ini, waktu per ngobrol per orang/group paling sedikit 40 menit. hitung deh hahahahahahahahaha.

keunikan berikutnya. Saya dan suami bertemu dan menikah dikala kami sudah ditengah perjalanan kehidupan, sudah punya pengalaman macam-macam walau kadarnya beda-beda. Kebayang, pasutri yang fresh menikah pertama kali di usia sesuai dan memulai bersama-sama saja bisa banyak perbedaan dan ketidakcocokan. Ini newly wed with not so newly age. hahahahahaha.

but overal, i do enjoy marriage life, coming from a 12-year-singleparent-experience. Moreover, I enjoy family with kids. i used to have only one kid, now i have 5. Thanking my husband would never be enough, giving this new life and new experience. Am so ready for us, for this life.

Ini kenapa jadi bahasa inggris sih? hahahhahahahhahahaha

 

Our Double Champions

Kelulusan SMP ini tentu PR terbesar dari orangtua adalah memfasilitasi anak-anak mendapatkan SMA terbaik yang diminati anak dan direstui orangtua (PR terbesar anak, ujian akhir dengan baik).

Januari, kami antarkan Rafa dan Afkar mengunjungi beberapa SMA yang sekiranya cocok dan selalu masuk dalam diskusi, salah satunya Taruna Nusantara Magelang. Sebuah sekolah semi militer, berasrama, yang program utamanya adalah mempersiapkan pemimpin bangsa. Tidak disangka, kunjungan langsung ke SMA TN itu membuat anak-anak menjatuhkan pilihan sekolahnya.

Kami pun lanjut ke tahap pendaftaran dan serangkaian tes. Tes pertama adalah tes akademik, sama dengan matpel UN. Susah? Banget kata anak-anak. Dengar-dengar memang soalnya adalah soal olimpiade matematika. Baiklah. Saya dan ayahnya hanya bisa menguatkan lewat doa. Alhamdulillah tahap ini Rafa dan Afkar lolos.

Tes berikutnya, tes kesehatan (termasuk kesehatan jiwa), dan psikotes. Tahap ini memang anak-anak diperiksa dari ujung rambut sampai ujung kaki, plus mental dan psikologi nya. Alhamdulillah lolos.

Tahap selanjutnya, serangkaian tes yang diadakan di SMA TN di Magelang. Sebelum terbang, memohon doa dari para kakek nenek. Mereka menginap 4 hari utk melakukan tes wawancara (ini esensial) baik tertulis maupun tatap muka, tes kesehatan jiwa yang kedua di RSJ Magelang, tes penempatan IPA/IPS & pantukhir. Selama 4 hari disana mereka diperlihatkan kehidupan berasrama, berkelakuan seperti siswa asrama.

Akhirnya pertengahan juni lalu, pengumuman final pun keluar. Dari hampir 4000 pendaftar, Rafa dan Afkar lolos sampai tahap akhir, masuk menjadi siswa TN angkatan 29 yg menerima hanya 360 siswa. Alhamdulillah sujud syukur.

Selamat anak-anakku Rafa dan Afkar, sudah luar biasa dan semangat melalui seluruh rangkaian tes dan lulus dengan nilai terbaik. Semoga 3 tahun kedepan di SMA TN bisa menjadi pembekalan untuk masa depanmu ya Nak. Bangga ayah mami mendampingi dan menghantarkan kamu berdua😘😘

Terima kasih tak terhingga atas doa & support yg tak henti dari nin ato, oma, kakek nenek, kakung ating, & seluruh keluarga. GroupHug :’)

Sentuhan Maskulin Dibutuhkan oleh Pendidikan

Saya berada di sekolah anak untuk menonton assembly kelas, yaitu penampilan seni tari, menyanyi, dan acting. Antusias karena ini pertama kali saya melihatnya manggung dari jarak 2 meter saja. Saya menikmati seluruh penampilan dari awal sampai akhir, sesekali memulai tepuk tangan dikala penonton terlalu sunyi entah karena terpana atau tipikal orang indonesia yang agak sulit memberikan tepukan kecuali diakhir penampilan itu pun jika diminta oleh MC. Lebih menikmati karena pihak guru sebagai pelatih menambahkan bumbu komedi pada script drama anak-anak, tidak ketinggalan sound yang mantap nyaringnya untuk aula sebesar itu. Ohya dan satu lagi, guru-guru menambahkan tayangan layar dengan foto-foto tiap anak dan keluarganya. Ah mengesankan

Satu hal yang ingin saya garis bawahi yang semoga bisa menjadi input bagi para pendidik dan pengasuh, adalah gerakan para siswa laki-laki yang kurang sentuhan maskulinitas. Ketika bernyanyi, anak laki-laki gerak langkah kaki kiri-kanan, untuk ini perempuan bisa menampilkan gemulai ditambah tangannya ikut menari. Ketika laki-laki menari, tidak ada power/tenaga sepanjang gerakan, menendang hanya menendang pura-pura dan pendek, meloncat sekedar jinjit. Capek kah? Atau gerakannya memang cukup boring bagi anak laki-laki? Ketika acting, peran seperti petani, pilot, masinis, pengusaha, anggota DPR RI, TNI, yang sudah dengan kostum gagahnya masing-masing, lagi-lagi diberi gerakan langka kaki kiri-kanan saja. Jujur saya tegaskan ulang: kurang sentuhan maskulin.

Iya, memang ini penampilan anak-anak kelas 4 SD, namun bijak rasanya jika disesuaikan saja porsi gaya perempuan dan laki-lakinya. Khusus untuk gerakan laki-laki dalam berkesenian, POWER adalah segalanya, agar membedakan dengan gemulainya gaya perempuan.

Tentu ini menjadi concern, karena saya memiliki 3 anak laki-laki, dan punya pengalaman mengawal lebih dari 40 remaja laki-laki usia SMA di yayasan yang saya asuh, lalu kini dosen untuk mahasiswa S1 dimana banyak remaja laki-laki yang masih belasan tahun terlihat lemas, tidak semangat, bergerak lambat. Terus terang, agak risih jika dihadapan saya terlihat sosok yang tidak bergerak cepat, apalagi laki-laki.

Saya dapat data dari teman, tentang prosentase guru menurut jenis kelamin dan jenjang sekolah, menurut Kemendikbud. Dari 100 responden guru SD perempuan 62.98%, laki-laki 37.02%. Guru SMP perempuan 43.03%, laki-laki 56.97%. Guru SMA dan SMK perempuan 53.72%, laki-laki 46.28%. Guru SD sungguh signifikan jauh lebih banyak berjenis kelamin perempuan dibanding laki-laki. Usia SD yang durasinya paling lama diantara jenjang sekolah lain, yaitu 6 tahun, dihadapkan dengan feminitas. Sedikit banyak berpengaruh pada 5 hari sekolah dikali @6-8 jam berada di sekolah.

Benar bahwa pendidikan dan pengasuhan memang pada mayoritasnya menjadi porsi perempuan: di rumah dengan ibu, di sekolah dengan ibu Guru. Meanwhile, merefer pada buku Budaya Organisasi Achmad Sobirin, terdapat negara yang maskulin dan feminin. Ini menarik. Mengingat Indonesia merupakan negara yang menganut budaya patrilineal.

Sobirin membedakan masyarakat maskulin dan feminin, yang saya kutip beberapa saja. Negara maskulin seperti Jepang, Inggris Raya, Jerman, Austria, Meksiko. Negara Feminin seperti Swedia, Norwegia, Belanda, Denmark, Finlandia, Thailand, Guatemala. Negara maskulin secara umum meletakkan nilai-nilai masyarakat dominan pada kemajuan ekonomi, sementara negara feminin dominan pada kepedulian & menjaga hubungan dengan orang lain. Di dalam keluarga masyarakat maskulit, seorang ayah lebih banyak berhubungan dengan fakta dan realita, ibu dengan perasaan. Masyarakat feminin, baik ayah maupun ibu bersama-sama memperhatikan fakta sekaligus perasaan. Dilihat dari cuplikan Sobirin diatas, Indonesia masuk ke kategori negara maskulin.

Pendidikan di Indonesia memerlukan sentuhan maskulin. Bahwa perlu jumlah yang lebih banyak akan bapak-bapak guru. Bahwa institusi pendidikan bijak jika mempertimbangkan mempekerjakan 50-50 guru perempuan-laki. Serta diingatkan bahwa anak-anak usia TK dan SD pun difasilitasi untuk  berkegiatan berbau maskulinitas.

Sementara di rumah, para ibu yang tentu mendapat daulat lebih banyak dalam pengasuhan sehari-hari, mengarahkan anak laki-lakinya kepada perilaku dan kegiatan yang mengasah sisi maskulin. Bertingkah laku sehari-hari diajarkan lebih gentlemen: menghormati perempuan baik ke ibu kaka adik, membebankan house-chores yang lebih ke fisik, berikan tanggung jawab lebih semisal menjaga adik. Sementara pekerjaan seperti memasak, mencuci  yang mungkin ranah feminin di rumah tangga, sangat baik diperkenalkan. Tujuannya tentu diniatkan untuk pembekalan menjadi individu yang mandiri kelak.

Bagaimana peran bapak dalam pendidikan dan pengasuhan? wah itu satu tulisan lagi… :)

Berkompetisi: Bukan Menang Kalah, Namun Ajang Melatih Mental

I have never set a bar for my kids to get medal or trophy. Mencoba lebih menghargai proses dibanding hasil. Hal ini saya tekankan bukan hanya untuk anak-anak, tapi juga saya sebagai orangtua: konsistensi mendukung dan mendampingi every little steps, yang ternyata tidak mudah karena terkadang situasi sekitar menuntut lebih.

Alhasil, jika anak bisa mencapai satu prestasi yang membuahkan medali atau piala, buat kami itu BONUS. Menjadi sebuah rekognisi dan penghargaan atas USAHA dan PROSES selama ini.

Jujur dan tanpa berlebihan, saya selalu membiasakan ajak anak-anak untuk refleksi dan evaluasi paska kompetisi, karena dibalik hasil yang diraih ada banyak sekali lesson learnt. Taruhlah seperti, betapa memenej waktu itu hal esensial yang jika tidak dilakukan bisa runyam. Menghargai komitmen orang lain yg berada dalam tim dengan datang tidak telat dan aktif berpartisipasi. Melakukanperencanaan dan persiapan dengan baik dan cukup. Mengerjakan pekerjaan rumah sebagai bentuk pengingat, dan masih banyak lagi.

Sebagai orangtua yang dalam hal ini berperan sebagai fasilitator, bijak jika kerap ingatkan anak bahwa dalam satu kompetisi ada yang menang ada yang tidak. Jika belum menang itu artinya pemicu untuk kita berlaku lebih baik lagi di kemudian. Terima dengan sportif. Lagi2, usaha nya lah yang kita hargai dan menjadi pembahasan. Jika terbukti belum maksimal, diperbaiki. Jika terbukti ada kesulitan, dicari solusi. Jika terbukti ada missed management, diarahkan. Jika terbukti ada kurang kordinasi, efektifkan komunikasi. Kalah terkadang malah menjadi pembelajaran nomor satu untuk terus berkembang dan tidak putus sampai disitu sahaja.

Kalah itu momen untuk introspeksi diri. Menang itu momen untuk tidak berpuas diri

Kompetisi, sebenarnya tidak hanya sekedar mengejar embel-embel juwara, namun dapat difungsikan sebagai ajang meningkatkan rasa percaya diri, mengukur diri, tidak lupa juga membantu anak untuk menjadi sportif, berjiwa profesionalitas, dan terpenting, mengasah mental.

Karena Nak, diluar sana, hidup tak lepas dari kompetisi. Bersiaplah.

EE25606A-54E3-4690-A047-065406228241

Wahana Edukatif jadikan Alternatif

Menemani #Lisana fieldtrip sekolah ke gelanggang samudera Ancol benar-benar reminiscing momen ceria. Tempat menyenangkan baik untuk anak2, remaja maupun dewasa. Tentu ini bukan kali pertama, ataupun kedua ketiga. Entah kenapa saya suka wahana ini. Tiap kali kesana, gembira rasanya.

Gelanggang samudera ancol ini tempat pertunjukan (mostly) hewan laut seperti lumba-lumba, singa laut, berang-berang, ikan2 di aquarium, tak ketinggalan beruang. Adapula atraksi bajak laut dan wahana bermain anak. Tiket masuk tidak terlalu mahal, worthed. Namun tidak bisa saya pungkiri sempat terbersit perlakuan para pawang terhadap hewan2 ini. Semoga binatang-binatang lucu ini dirawat dengan baik ya.

Perlu deh kita bawa anak2 ke tempat wisata edukatif, wisata alam bertemu dengan hewan & tumbuhan. Banyak kok tempat asik untuk di explore bersama keluarga di jabodetabek ini. Jadi tidak melulu kunjungan mal yang berujung konsumtif ria. Mulai rancang tempat2 seru di sekitaran yang terjangkau baik lokasi maupun biaya ya. Seru. Anak2 hepi, ortu hepi

Anak-anak Tangguh

Di usia yang terbilang belia, mereka sudah harus kehilangan ibu nya, sudah harus kehilangan bapak nya. Situasi yang tentu tidak mudah, tapi mereka move-on dan dalam perjalanannya mencari jati diri dan meraih impian-impian.

Saya pun berkesempatan menjadi saksi hidup mereka, belajar dari mereka.

Mereka anak-anak tangguh whom i proud called SONS!

#keluargaSambung #MyExcitedLife #from1to5

Congratulations on Your First Book Launch – April 17, 2015

Siang itu, setelah Book Launch, RJ sudah kembali ke sekolah, tamu bubar, venue sudah dibereskan.

Saya rasa tidak berlebihan jika saya menangis tersedu didalam mobil, menangis terharu, bangga akan my RJ. Hari ini dia meluncurkan bukunya. Buku tentang E-waste adalah buku pertama RJ yang diterbitkan. Hari ini menjadi flashback buat saya akan segala proses dan journey RJ ketika menyusun ini.

Diawali dengan projek sekolah di kelas 5 tentang penggunaan barang elektronik berlebihan. Bersama dengan kelompok Technosiastic (Davi, Audrey, Fatah), RJ begitu tenggelam asik didalam penelitian dan penulisan laporan individunya. Ujung dari projek ini adalah exhibition dimana setiap anak memamerkan dan memaparkan hasil penelitiannya. Ketika kakeknya datang melihat exhibition dan mendengar penjelasan presentasi nya, Ato (panggilan kakek) merasa karya ini sayang jika tidak dijadikan buku. RJ pun termotivasi dan terinspirasi untuk kembangkan hasil projek sekolah ini menjadi buku. Saya sebagai ibu ikut bangga dan sigap memfasilitasi, karena merasa keinginan seperti ini jarang terjadi dan merupakan moment yang harus segera ditangkap dan ditanggapi. Saya menghubungi kenalan yang merupakan publisher buku, beberapa. Satu yang cepat berikan respon adalah penerbit Buah Hati. Bertemu lah kami untuk pertama kali dan bicarakan rencana pembuatan buku. Pulang dari meeting itu, RJ membawa semangat baru. Ia pun mulai mencari sumber bacaan lain untuk memperkaya isi buku. Saya perhatikan, RJ suka dengan referensi berupa video dan visual. Lalu ia terjemahkan ke dalam penulisan. Tidak mudah memang selalu membangun semangat yang sama dikala RJ juga memiliki tugas sekolah dan kegiatan extra. Saya menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran ke dalam proses pembuatan buku ini juga, terkhusus mencurahkan kasih sayang dan perhatian untuk sang penulis, RJ. Kami sering diskusi, tidak jarang pula berdebat. Saya rasa, disini proses pembelajaran untuk kami berdua. Banyak hal baru bermunculan setelah diskusi. Outline pun selesai setelah jatuh bangun mengubah, mengoreksi, menulis ulang.

Saatnya memilih ilustrator. Tantangannya ada pada selera. RJ cukup picky untuk jenis gambar. Ia tidak mau gambar yang terlalu detail dan ke-korea-korea-an seperti yang sedang digandrungi. Menggambar apa dan ditaruh di halaman berapa nya pun RJ yang mengatur dan merancang. And there you go, proses yang cukup intens akhirnya berlanjut ke tahap design & layout buku. Puas akan hasilnya, belum membuat RJ sadar betul bahwa ia sedang menghasilkan sebuah karya. Sampai akhirnya, buku dalam bentuk hardcopy ia pegang di tangan nya sendiri dan lihat dengan seksama. Barulah RJ sadar dan loncat-loncat kegirangan, “MY BOOK IS PUBLISHED, MOM! WOW THIS IS SO AWESOME!” Saya menjadi saksi mata kegembiraan nya. Tak terasa air mata bahagia menetes.
Februari 2015 merupakan bulan karunia buat RJ, tepat di ultah ke-12, ia persembahkan kado terindah buat saya, ato dan nin nya. BUKU E-WASTE karya RAFA JAFAR. Terlebih, soft launching buku nya pun lancar berjalan di event peluncuran buku Ato. Sesi RJ berbagi cerita dan pengalaman tentang buku nya mengalir begitu saja, didepan para tamu yang sebagian besar kawan Ato-nya. He truly nailed his first public speech! I am such a proud mother.
Buku pun beredar ke toko-toko buku, di seluruh Indonesia. Sesempat kami di weekend, mengunjungi toko buku di wilayah terjangkau, jakarta dan Jawa. Melihat bukunya ada di deretan buku  sains anak, RJ senangnya bukan main. Apalagi di sepanjang rak kategori sains anak, hanya RJ lah penulis Indonesia, anak-anak pula. Ah bangga nya. Memang masih jarang buku dengan genre ini.
Kegembiraan bertambah karena pembeli buku RJ mulai memberikan testimoni, bahwa anak-anaknya enjoy membaca buku Ewaste. “Banyak pengetahuan baru dan penting yang didapat dengan buku yang dikemas dengan gaya bahasa anak remaja ini. Ih keren banget sih RJ baru 12 tahun sudah bisa nulis buku seperti ini!” -Ifa, mama Z 7 th. “Bukunya keren banyak informasi tentang E-waste yang disampaikan dengan menarik, sederhana, & enak dibaca, seperti tips menghemat batere, sama sekali gak bosen! Apalagi pas Clarissa tahu yang menulis anak SD, dia jadi terinspirasi nulis juga deh!” -Lydia, mama Clarissa 6th. “Pulang kerja langsung ditanya, mama tau gak batere, TV, HP yang udah gak kepake dibuang kemana, oh ternyata seharian dia baca buku RJ! For 12 year old boy, you rock!” -Feby mama Naveed. “Keren ya anak-anak jaman sekarang, bangga deh sama RJ!” -Najwa Shihab, MetroTV.

Hari ini, buku E-waste: Sampah Elektronik diluncurkan, bertempat di Sekolah Cikal Amri. Didepan 180an teman dan gurunya, RJ menjawab rasa penasaran mereka tentang proses pembuatan buku. Senang rasanya bisa berbagi bahwa projek sekolah sangat memungkinkan untuk diangkat menjadi karya yang lebih besar dan memberikan dampak yang lebih banyak.

RJ dan saya ingin berterima kasih tak terhingga kepada Penerbit Buah Hati yang telah memberikan kesempatan bagi seorang anak usia 11 tahun mewujudkan impiannya, mempercayai RJ untuk mengembangkan hal sesederhana projek sekolah menjadi sesuatu yang mudah dibaca dan dicerna. Terima kasih kepada sekolah cikal yang mewadahi tiap siswanya untuk berkarya melalui PYP projek, suatu penelitian 3 bulan yang menantang namun menyenangkan dan tentu sangat berguna (mereka belum sadar saja, nanti ketika sudah sma atau kuliah, baru mengerti benar kegunaan penelitian semasa di SD).  Semua guru dan fasilitator yang mengawal RJ selama projek, you definately have inspired him! RJ’s classmates, wow sekelompok anak-anak yang luar biasa menyenangkan dan (ini yang terindah) sopan. Di jaman yang serba digital membuat anak-anak tumbuh menjadi cuek, BUT not his friends. Senang melihatnya. Tidak ketinggalan, para orangtuanya. Oh my God, kompak minta ampun, bersyukur banget bisa mengenal mereka semua yang selalu setia saling beri informasi tentang kegiatan anak-anak dan malah mengatur, mendampingi, menjaga, and most importantly menyayangi mereka semua tanpa terkecuali. That is for me, a true friendship!

RJ, mungkin jika ada kata diatas “bangga”, akan mami gunakan, You have achieved beyond my imagination, beyond my expectation. You are such an amazing loveable kid. You are my life. Even only thinking of you, makes me alive.

Congratulation my son. I hope this book you’ve written can make people more aware on e-waste and give as many impact as it can. This will be your step stone in to bigger dream and brighter future. Stay smart and inspirative! LOVE YOU A LOT.

baca juga EwasteBook Launch

Manjakan Anak Itu Perlu

Siapa yang tidak suka dipeluk?
Siapa yang tidak suka dibelai?
Siapa yang tidak suka dielus?
Siapa yang tidak suka diusap?
Siapa yang tidak suka dipijat lembut?
Siapa yang tidak suka didekap?
Siapa yang tidak suka digandeng tangan?
Siapa yang tidak suka dicium-cium?

Jika ada, artinya dia haus kasih sayang. Artinya, tidak terbiasa.

Simple. Semua orang butuh kehangatan

Beruntunglah, jika semasa kanak-kanak dan bertumbuh diperlakukan hangat oleh bapak, ibu dan/atau orang terdekat. Why? Karena saya percaya, kehangatan menjadi salah satu kunci utama pembentukan karakter seseorang.

Telah banyak bukti, orang-orang sukses, jika membaca biografi mereka, tidak terlepas dari mengisahkan bagaimana kedekatan mereka dengan orangtua dan menjadikan orangtua sebagai role-model. Bagaimana orangtua mereka dahulu memberikan cinta tulus lewat sentuhan. Telah banyak kisah orang sukses beranjak dari kekurangan (baca: kemiskinan), namun pasti berbekal cukup kasih sayang. Hanya itu modal awalnya.

Apakah memberikan sentuhan, belaian, sayang, berarti memanjakan?Berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia manja adalah:
manja /man·ja/ a 1 kurang baik adat kelakuannya krn selalu diberi hati, tidak pernah ditegur (dimarahi), dituruti semua kehendaknya, dsb: krn anak bungsu, ia sangat –; 2 sangat kasih, jinak, mesra (kpd): anak itu sangat — kpd kakeknya; kucing itu — sekali kpd tuannya;— diri gejala yang normal pada anak-anak usia antara 4—6 tahun untuk selalu memperoleh perhatian orang tua atau lingkungannya terhadap diri sendiri, biasanya disebabkan oleh terpecahnya perhatian orang tua kepada adiknya atau karena makin berkurangnya perhatian orang tua bersamaan dengan makin besarnya anak itu;

Terlihat di atas, arti manja berkonotasikan negatif, mengikutkan semua kehendaknya. Nah… Kebanyakan orangtua memanjakan dengan mengikuti apa yang dimau anak dengan materi, yang sifatnya konsumtif. Hal ini biasanya dilakukan untuk menutupi atau mengganti waktu dan perhatian yang tidak dapat diluangkan pada anak selama bekerja/bepergian keluar rumah.

Tapi… itukan yang common. Baik juga kalau kita lihat makna/arti kata manja yang kedua pada KBBI, yaitu sangat kasih, jinak, mesra (kpd)

Memanjakan anak dengan menaburkan kasih sayang dan cinta
Menaburkan, layaknya tanaman ditabur pupuk, pasti akan tumbuh dengan segar dan proper. Begitu pula, manusia. Jangan tanya sebesar apa efeknya jika semasa kecil dan bertumbuh, dipupuki cinta kasih tak berujung, kehangatan (baca: kemesraan) tak berbatas. Long term effect!

Kalau ingin menunjukan kemesraan pada anak, berikan dengan tulus sentuhan-sentuhan kasih sayang itu.  Jangka panjangnya dapat membantu membentuk karakter: perhatian, peduli, percaya diri, peka, kekeluargaan, memikirkan sekitar, mudah bersosialisasi, friendly, enak diajak ngobrol, ramah, senang berbagi, mampu menyatakan sayang, dan masih banyak lagi. Tentu jika selalu dipelihara, dilakukan, dikomunikasikan.

Mari menambah arti harfiah dari manja. Sehingga manja dalam arti konotatif dapat tergeser dengan manja yang berarti kasih dan romantisme.

Manja/a 1 Berbicara lembut; 2 Menatap mata dalam; 3 Berdiri sejajar sama tinggi; 4 Aktivitas menyentuh kulit badan atau berdekatan — memeluk, membelai, menyusui, mencium, mendekap, mengelus, mengusap, memijat, memegang tangan. (Berdasarkan kamus besar bahasa farahdibha)

Sentuhan Fisik
Hubungan orangtua dan anak berdekatan secara fisik sudah terjadi sejak dalam kandungan, bukan?

Ibu mengandung 9 bulan, dimana janin telanjang. Selama 9 bulan itu janin bersentuhan langsung dengan ibu. Lalu, dilanjutkan proses menyusui/meneteki yang jelas bersentuhan kulit pula, yaitu payudara ibu dengan badan bayi. Bisa dimaksimalkan lagi dengan ibu dan bayi tidak memakai atasan hanya bawahan saja selama sedang meneteki.

Pernah mendengar skin-to-skin contact? Yaitu kontak kulit bayi dan ibu/bapaknya, berguna untuk menghangatkan bayi, menenangkan tidak hanya bayi tapi juga ibunya, memperlancar hormon oksitoksin (hormon pengaliran ASI yang biasa disebut hormon cinta). Tidak sekedar bersetuhan, namun banyak kegunaan yang belum banyak orang sadar.

TOUCH, “bahasa” yang dipelajari sejak bayi, yang artinya bersentuhan, merupakan poin maha penting dalam pengasuhan. Jika dilewatkan atau tidak sering dipraktekkan, akan berpengaruh kedalam diri seorang individu. Misalnya, menjauhkan diri dari sekitar, cepat emosi, mudah tersinggung, kurang peka, sulit berkomunikasi verbal, dan lain sebagainya. Seperti dikatakan Rick Chillot dalam Psychology Today “Touch is the first sense we acquire and the secret weapon in many a successful relationship.” (Sentuhan adalah indera pertama yang kita dapat dan merupakan senjata rahasia dalam berbagai macam hubungan sukses).

Menyentuh adalah komunikasi non-verbal untuk mengirimkan dan menerima sinyal emosi.

Psychologist Matthew Hertenstein, pada tahun 2009 mengatakan “we have an innate ability to decode emotions via touch alone!” (kita memiliki kemampuan bawaan untuk memecahkan kode emosi melalui sentuhan saja!)

Bau Tangan
Familiar dengan 2 kata itu kan? Orangtua kita dahulu mengartikan bau tangan ini dengan anak yang tidak mau terlepas dari ibu dan selalu minta digendong. Bau tubuh ibu yang selalu ingin dicium dan dirasakan anak, sehingga si anak tidak mau dengan orang lain selain ibu. Mengalami ini? BAGUS! Kita ambil hikmahnya dan nikmati. Silahkan gendong anak, silahkan lengket dengan anak. Why? Satu, menggendong merupakan proses mendekap erat yang disukai anak-anak karena bentuk kenyamanan berdekatan dengan orang yang dicintainya, dan orang yang paling dibutuhkannya saat itu. Hal ini menjadi modal kedekatan kita si orangtua sampai akhir hayat anak. Dua, keinginan digendong ini tidak akan berlangsung lama, segera setelah anak sadar serunya berlari-lari, anak akan memilih bergerak. Segera setelah anak sadar melakukan apa-apa sendiri adalah mengasyikkan, anak akan memilih mandiri. Jadi buat apa segera mengakhiri proses berdekatan ini di tahun-tahun awal kehidupan anak? Sungguh, lagi-lagi bedakan dengan memanjakan.

Menyusui Modal Awal
Begitu pula dengan menyusui. Proses menyentuh yang powerful. Bayangkan, selain kontak kulit bayi dengan ibu nya, anak berdekatan dengan detak jantung ibu dan merasakan apa yang ibu rasakan. Detak jantung berdebar artinya ibu sedang insecure (takut, marah), si anak yang sedang berdekatan itu akan ikut merasakan, dan mungkin menjadi tidak karuan juga dan diakhiri menangis atau rewel. Semua ibu menyusui diluar sana paham dengan situasi ini, betul? Ingat, bahwa menyusui bukanlah berhenti pada proses pemberian makan saja, tapi menyusui pada payudara merupakan proses menggendong, mendekap, menyentuh, mengelus, menatap, you name it, komunikasi non-verbal yang efeknya luar biasa. Karena dilakukan berulang-ulang, sering, selama bertahun-tahun. Tercipta BONDING.

Percayalah, ini modal awal pembentukan karakter.

Selanjutnya, anak-anak beranjak usia, tidak berhenti memanjakan dalam bentuk pelukan, elusan di kepala, tatapan hangat saat dia bercerita, mencium pipi/kening, gandengan tangan, merangkul, dan terkadang tidur bareng di kamar anak/ruang keluarga. Menjaga romantisme lewat sentuhan.

Sebuah kisah dari suku Papago, suku Indian di Benua Amerika. Anak-anak Papago yang seolah-olah mendapatkan kemanjaan dari orangtua nya, seperti bayi selalu digendong dan mendapatkan kasih sayang/afeksi serta kehangatan yang besar. Setelah dewasa, anak-anak Papago ini justru menjadi mandiri dan tidak memperlihatkan ketergantungan dan tuntutan perhatian dari orangtuanya. Mereka pekerja keras dan mau meninggalkan komunitasnya untuk merantau mencari uang, namun keterikatan kepada keluarga nya tetap kokoh. Anak yang masa kecilnya puas mendapatkan afeksi, menjadi lebih kalem dan mandiri. (Rohner, 1975)

Jadi, apakah memanjakan dengan kasih sayang itu perlu?
Tidak hanya perlu, namun PENTING.

Izinkan Saya Nak

Masuk ke kantor Yayasan, Pembina menyodorkan 24 rapot bayangan anak-anak. Seraya membuka tiap lembarnya…..

Tidak terkejut. Tidak heran.

Dejavu. Angka-angka ini kembali ada dihadapan saya. Angka yang awalnya membuat saya shock dan mengumpulkan anak-anak lalu melemparkan petasan kawinan betawi.

Tidak kali ini. Saya memutuskan untuk tidak mengulangi kejadian tahun lalu. Saya merasa nyaman bertanya dari sisi mereka, apa yang mereka rasakan dan pikirkan.

Terjadi diskusi yang hangat. Satu persatu mereka mengeluarkan pendapat tentang hasil rapot itu. Ada yang merasa penurunan, ada yang merasa peningkatan. Ada yang melihat dari situasi yang sama tahun lalu. Ada yang melihatnya dari sisi semester sebelumnya. Tidak ada yang salah. Sah saja melihat dari semua sudut. Dan saya membenarkan semuanya.

Diskusi diakhiri dengan tanya jawab. Mencari solusi, agar ada pembenahan diri.

Sungguh dekat.
Kangen saya terobati.

Senang rasanya kembali ditengah-tengah para anak yang sedang bergejolak hatinya. Saya tahu, kalian pasti…

Kepikiran tentang bapak ibu,
Kepikiran tentang adik, kakak serta teman-teman di kampung,
Merasa tidak punya seseorang yang bisa menjadi tempat menangis,
Merasa overwhelm dengan pelajaran sekolah, semua hafalan
Merasa lelah dengan kegiatan-kegiatan, rutinitas
Merasa capek dengan segala tuntutan, harapan, target
aaaaah masih banyak lagi…

Saya tahu, peran saya maupun yayasan tidak bisa memenuhi semua itu.
Tapi… izinkan saya Nak,
Untuk menjadi mami, pengganti ibumu di kampung,
Menjadi mami yang memberikan kasih sayang, perhatian, dan
Untuk berada disana ketika kalian butuhkan.

Walau hanya 3 tahun.