Wahana Edukatif jadikan Alternatif

Menemani #Lisana fieldtrip sekolah ke gelanggang samudera Ancol benar-benar reminiscing momen ceria. Tempat menyenangkan baik untuk anak2, remaja maupun dewasa. Tentu ini bukan kali pertama, ataupun kedua ketiga. Entah kenapa saya suka wahana ini. Tiap kali kesana, gembira rasanya.

Gelanggang samudera ancol ini tempat pertunjukan (mostly) hewan laut seperti lumba-lumba, singa laut, berang-berang, ikan2 di aquarium, tak ketinggalan beruang. Adapula atraksi bajak laut dan wahana bermain anak. Tiket masuk tidak terlalu mahal, worthed. Namun tidak bisa saya pungkiri sempat terbersit perlakuan para pawang terhadap hewan2 ini. Semoga binatang-binatang lucu ini dirawat dengan baik ya.

Perlu deh kita bawa anak2 ke tempat wisata edukatif, wisata alam bertemu dengan hewan & tumbuhan. Banyak kok tempat asik untuk di explore bersama keluarga di jabodetabek ini. Jadi tidak melulu kunjungan mal yang berujung konsumtif ria. Mulai rancang tempat2 seru di sekitaran yang terjangkau baik lokasi maupun biaya ya. Seru. Anak2 hepi, ortu hepi

Angkatan Terakhir Beasiswa RAYjabalHaq

Menjadi ketua yayasan @RAYjabalhaq yang memiliki total 37 remaja putra asuhan dari pelosok memberikan saya kesempatan belajar menjadi ibu, menjadi pemimpin, menjadi sahabat remaja, menjadi guru (saya sempat menjadi kepala sekolah di PAUD Taman Firdaus binaan yayasan)

Metode pemberian beasiswa bagi pelajar lulusan SMP/MTs ini dimulai 2011, dan berakhir di 2017. Beasiswa diberikan kepada pelajar berprestasi yang yatim dan dhuafa. Asal merekapun dari daerah, yang saat itu saya mulai dari Sulawesi Selatan dengan harapan akan terus berkembang ke seluruh Indonesia. Para remaja asuh ini di scout oleh saya dan tim, mereka melewati serangkaian tes dan wawancara serta pertemuan saya dan orangtua mereka (jika sudah lolos sampai tahap terakhir). Ke-37 remaja semua bersekolah di bilangan Bekasi karena yayasan kami terletak disana dan mereka di asramakan selama menempuh SMA/SMK kurang lebih 3 tahun. Peraturan yayasan cukup ketat layaknya asrama pelajar putera lain, mereka merantau dan tidak pulang ke kampung halaman sampai masa sekolah 3 tahun usai. Di asrama mereka ditempa keimanan, kemandirian, kepemimpinan, kebersamaan. Fokus pengajaran di yayasan adalah IMTAQ dan IPTEK agar mereka menjadi insan yang kuat iman dan cerdas teknologi.

Tahun 2017 ini, saya meluluskan 4 anak didik terakhir dari 37 tersebut. Bangga namun bercampur sedih karena keseharian saya bersama remaja putra tidak lagi bisa saya rasakan. Bangga karena para lulusan kami kini menyambung kuliah sambil bekerja demi mendapat biaya sekolah dan hidup.

Kedepannya, yayasan akan terus berjalan dan berkembang dengan metode didik baru. Semoga senantiasa diberikan kemudahan kelancaran🙏

Pekerjaan: Dosen

Menjadi dosen bukanlah cita-cita namun memang keinginan terpendam yang sejak lama masuk dalam agenda hidup.


Karena pada dasarnya dosen menggabungkan 2 hal yang saya sukai, berkomunikasi dan sharing/teaching. Berbagi ilmu & pengalaman kepada orang-orang muda (& produktif, karena saya mengajar kelas weekend bagi pekerja) menjadi ajang belajar kembali, mengingatkan (agar ilmu ga hilang ditelan masa), ajang memotivasi khususnya semangat muda-mudi. Entah kenapa when it comes to pemuda saya kok merasa tertantang untuk menyentrum mereka dengan semangat, mengingat para pemuda adalah sosok dewasa yang asik dibina karena masih proses pembentukan karakter.


Saya termasuk yang gerah melihat jika pemuda klemar klemer, tidak sigap dan tanggap, tidak tahu mau kemana arah, acuh tak acuh, tidak sensitif terhadap sekitar, dan kerap menyalahkan orang karena tidak mau bertanggung jawab.


Jadi diantara kuliah saya tentang promosi kesehatan, saya suka menyuntik pesan2 motivasi untuk para pemuda, ajak mereka main games yang berujung kebersamaan, problem solving dll. Atau sesederhana berbagi tentang pengalaman para champions dalam menerapkan sikap voluntirism di masyarakat yang akhirnya berbuah manis dengan dikenal sebagi gerakan/komunitas.

So i thank God for this opportunity. Let’s roll out!

Momager

Sebagai momager, mom sekaligus manager dari @ewasterj, meluangkan waktu menemani @rafajafar mensosialisasikan gerakan #ewasteRJdropzone #sadarsampahelektronik baik ke media atau ke masyarakat.

Saya pernah diingatkan oleh teman baik yang bekerja di ranah hak anak “Diba, beda tipis loh mempromosikan karya anak dengan mengekploitasi anak” ketika tahun 2015 launching buku @ewasterj.

Saya setuju apa yang dikatakan teman saya itu, mulailah saya menjalankan peran si manajer dengan balutan ibu. Artinya membantu memenej kegiatan sosialisasi namun terlebih memperhatikan kaidah dari sisi hak anak mengingat RJ masih dibawah umur. Semua komunikasi yang melibatkan RJ dalam ewasteRJ melewati saya dan/atau dengan sepengetahuan saya. Tiap ajakan media untuk meliput, saya pastikan bertanya kesediaan RJ terlebih dahulu. Tidak semerta-merta mengiyakan demi mendapat expose media besar/terkenal. Jika RJ tidak mau/bersedia, saya akan menolak dan menjelaskan pure dari sisi kesediaan anak ybs

Memang yang dilakukan RJ adalah bentuk peningkatan kesadaran akan lingkungan (meliputi: bahaya sampah elektronik & mewadahi sampah elektonik dengan tepat) dan merupakan gerakan sosial, namun saya sadar bahwa hal ini bisa juga membuat RJ sombong karena exposure. Sebagai orangtua, saya berusaha sedemikian untuk selalu membimbing mengawal dan mengawasi agar tetap pada koridor dan tujuan awal pembentukan komunitas, gerakan penyadaran & kesinambungan karya/inovasi. Anak tidak merasa beban, tidak merasa dipaksa melakukan yang tidak disukai.

Harapannya sih, semoga RJ semakin semangat melanjutkan kreativitas, inovasi, pemberdayaan diri, dan tidak setop sampai disini. Ganbate Jeeee…..!