Anak Muda Indonesia

Menyenangkan bisa selalu diberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan para anak muda. Sebagai ketua yayasan Muslim Jabal Haq sejak 2011, saya menjadi orangtua asuh dari remaja yang kami bina selama 3 tahun yang ditempatkan di SMA/SMK. Jumlah mereka tidak sedikit, 40 orang. Saya dan tim menjelajahi pelosok beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan demi (saat itu) mencari calon-calon penerima beasiswa dengan kriteria tertentu, yaitu yatim/dhuafa dan cerdas. Selama kebersamaan sudah menginjak 5 tahun ini, saya punya beberapa cerita dan anggapan perihal karakter para anak muda. Kesempatan lain, saya merupakan dosen dari mahasiswa S1 yang berusia kisaran 17-19 tahun. Di kedua kesempatan yang merupakan ranah pendidikan itulah dimana saya bisa observasi langsung perkembangan para anak muda.

Anak muda, si pemegang kunci dari generasi penerus bangsa. Tidak sedikit dari mereka yang karakternya bercatatan. Sebut saja, sifat acuh, tidak sensitif, tidak peduli, kurang bertanggung jawab, tidak mandiri dan kerap bergantung pada dewasa didekatnya (ini dari mulai membuka botol minuman sampai tidak mahir naik umum). Semua ini tentu mengarah membentuk mereka kepada ketidakpedean, tidak mampu mengambil keputusan, ikut arus saja alias mainstream, kurang kreatif dan tidak berani berkarya, dan lainnya. Padahal masa muda lah tempat dan waktunya banyak melakukan dan mencoba hal baru, memulai dan menciptakan sesuatu, berbuat untuk lingkungan dan masyarakat, menghargai leluhur, sejarah dan elevate hal itu kepada kekinian.

Observasi saya ada pada beberapa faktor penyebab,

One click away. Dunia maya adalah godaan terbesar untuk mager (males bergerak) dari mulai main game, youtubing, browsing. Hal ini menahan anak muda dari berkegiatan outdoor, bermasyarakat, berkomunikasi dan melatih diri di situasi sulit. Apalagi kini semua hal itu bisa dilakukan di gadget kecil yang ada di tangan.

Dimanjakan dan kurang perhatian. Orangtua kerap menyerahkan anak ke sekolah, berasumsi sekolah tempat aman dan terbaik padahal tidak selalu. Tetap diperlukan pengawalan dan pengawasan. Di sekolah mereka bisa saja curang, tertekan, beban, lalu sesampainya di rumah, kembali diberondong dengan peran dan tugas lain. Orangtua yang terlalu sibuk dan kebersamaan dengan anak merupakan waktu sisa, hal ini membuat anak menjadi tidak peduli dengan kehadiran dan keberadaan orangtua nya. Banyak juga yang akhirnya membayar kesibukan itu dengan memanjakan secara materi dan akhirnya anak terlena dan menggunakan senjata itu untuk terus minta apapun yang dimau.

Tidak maksimal pengasuhan dari kecil. Menyusui merupakan awal dari kelekatan anak dan orangtua. Menyusui lebih dari sekedar memberikan makan (ASI) tapi juga dekapan, pelukan, tatapan, hangat, dan tentu saja nutrisi yang membuat mereka sehat wal afiat secara lahir dan batin. Disusui selama 2 tahun atau lebih tidak hanya membentuk IQ yang diatas rata-rata, namun juga Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotient (SQ) yang dipersiapkan dan dilatih untuk bekal kemudian hari. Orangtua tidak berpikir panjang perihal kelekatan masa kecil ini, dengan mudahnya memberikan pengganti ASI yang tentu memiliki resiko besar saat mereka mendewasa. Pemberian nutrisi yang baik (dan tidak harus mahal, Indonesia begitu kaya beragam jenis makanan bergizi bagus) dan kasih sayang juga merupakan kunci asah asih asuh.

Ingat, usia anak sampai 18 tahun, artinya mereka difasilitasi untuk mendapatkan hak mereka. Jika saja ada faktor diatas yang tidak diberi atau tanpa pengawasan, tidak heran memang generasi penerus ini menjadi PR dan momok. Nantinya mereka akan menjadi para dewasa yang harus mencari pekerjaan, berumah tangga, menjadi orangtua, dan hidup bermasyarakat. Alangkah sayangnya jika mereka terbentuk tidak maksimal dan tidak berguna bagi lingkungannya.

Rasanya kita perlu memberikan perhatian kepada anak muda ini. Ikut bertanggung jawab untuk generasi bangsa yang lebih baik, mumpuni dan ber-skillful