Manjakan Anak Itu Perlu

Siapa yang tidak suka dipeluk?
Siapa yang tidak suka dibelai?
Siapa yang tidak suka dielus?
Siapa yang tidak suka diusap?
Siapa yang tidak suka dipijat lembut?
Siapa yang tidak suka didekap?
Siapa yang tidak suka digandeng tangan?
Siapa yang tidak suka dicium-cium?

Jika ada, artinya dia haus kasih sayang. Artinya, tidak terbiasa.

Simple. Semua orang butuh kehangatan

Beruntunglah, jika semasa kanak-kanak dan bertumbuh diperlakukan hangat oleh bapak, ibu dan/atau orang terdekat. Why? Karena saya percaya, kehangatan menjadi salah satu kunci utama pembentukan karakter seseorang.

Telah banyak bukti, orang-orang sukses, jika membaca biografi mereka, tidak terlepas dari mengisahkan bagaimana kedekatan mereka dengan orangtua dan menjadikan orangtua sebagai role-model. Bagaimana orangtua mereka dahulu memberikan cinta tulus lewat sentuhan. Telah banyak kisah orang sukses beranjak dari kekurangan (baca: kemiskinan), namun pasti berbekal cukup kasih sayang. Hanya itu modal awalnya.

Apakah memberikan sentuhan, belaian, sayang, berarti memanjakan?Berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia manja adalah:
manja /man·ja/ a 1 kurang baik adat kelakuannya krn selalu diberi hati, tidak pernah ditegur (dimarahi), dituruti semua kehendaknya, dsb: krn anak bungsu, ia sangat –; 2 sangat kasih, jinak, mesra (kpd): anak itu sangat — kpd kakeknya; kucing itu — sekali kpd tuannya;— diri gejala yang normal pada anak-anak usia antara 4—6 tahun untuk selalu memperoleh perhatian orang tua atau lingkungannya terhadap diri sendiri, biasanya disebabkan oleh terpecahnya perhatian orang tua kepada adiknya atau karena makin berkurangnya perhatian orang tua bersamaan dengan makin besarnya anak itu;

Terlihat di atas, arti manja berkonotasikan negatif, mengikutkan semua kehendaknya. Nah… Kebanyakan orangtua memanjakan dengan mengikuti apa yang dimau anak dengan materi, yang sifatnya konsumtif. Hal ini biasanya dilakukan untuk menutupi atau mengganti waktu dan perhatian yang tidak dapat diluangkan pada anak selama bekerja/bepergian keluar rumah.

Tapi… itukan yang common. Baik juga kalau kita lihat makna/arti kata manja yang kedua pada KBBI, yaitu sangat kasih, jinak, mesra (kpd)

Memanjakan anak dengan menaburkan kasih sayang dan cinta
Menaburkan, layaknya tanaman ditabur pupuk, pasti akan tumbuh dengan segar dan proper. Begitu pula, manusia. Jangan tanya sebesar apa efeknya jika semasa kecil dan bertumbuh, dipupuki cinta kasih tak berujung, kehangatan (baca: kemesraan) tak berbatas. Long term effect!

Kalau ingin menunjukan kemesraan pada anak, berikan dengan tulus sentuhan-sentuhan kasih sayang itu.  Jangka panjangnya dapat membantu membentuk karakter: perhatian, peduli, percaya diri, peka, kekeluargaan, memikirkan sekitar, mudah bersosialisasi, friendly, enak diajak ngobrol, ramah, senang berbagi, mampu menyatakan sayang, dan masih banyak lagi. Tentu jika selalu dipelihara, dilakukan, dikomunikasikan.

Mari menambah arti harfiah dari manja. Sehingga manja dalam arti konotatif dapat tergeser dengan manja yang berarti kasih dan romantisme.

Manja/a 1 Berbicara lembut; 2 Menatap mata dalam; 3 Berdiri sejajar sama tinggi; 4 Aktivitas menyentuh kulit badan atau berdekatan — memeluk, membelai, menyusui, mencium, mendekap, mengelus, mengusap, memijat, memegang tangan. (Berdasarkan kamus besar bahasa farahdibha)

Sentuhan Fisik
Hubungan orangtua dan anak berdekatan secara fisik sudah terjadi sejak dalam kandungan, bukan?

Ibu mengandung 9 bulan, dimana janin telanjang. Selama 9 bulan itu janin bersentuhan langsung dengan ibu. Lalu, dilanjutkan proses menyusui/meneteki yang jelas bersentuhan kulit pula, yaitu payudara ibu dengan badan bayi. Bisa dimaksimalkan lagi dengan ibu dan bayi tidak memakai atasan hanya bawahan saja selama sedang meneteki.

Pernah mendengar skin-to-skin contact? Yaitu kontak kulit bayi dan ibu/bapaknya, berguna untuk menghangatkan bayi, menenangkan tidak hanya bayi tapi juga ibunya, memperlancar hormon oksitoksin (hormon pengaliran ASI yang biasa disebut hormon cinta). Tidak sekedar bersetuhan, namun banyak kegunaan yang belum banyak orang sadar.

TOUCH, “bahasa” yang dipelajari sejak bayi, yang artinya bersentuhan, merupakan poin maha penting dalam pengasuhan. Jika dilewatkan atau tidak sering dipraktekkan, akan berpengaruh kedalam diri seorang individu. Misalnya, menjauhkan diri dari sekitar, cepat emosi, mudah tersinggung, kurang peka, sulit berkomunikasi verbal, dan lain sebagainya. Seperti dikatakan Rick Chillot dalam Psychology Today “Touch is the first sense we acquire and the secret weapon in many a successful relationship.” (Sentuhan adalah indera pertama yang kita dapat dan merupakan senjata rahasia dalam berbagai macam hubungan sukses).

Menyentuh adalah komunikasi non-verbal untuk mengirimkan dan menerima sinyal emosi.

Psychologist Matthew Hertenstein, pada tahun 2009 mengatakan “we have an innate ability to decode emotions via touch alone!” (kita memiliki kemampuan bawaan untuk memecahkan kode emosi melalui sentuhan saja!)

Bau Tangan
Familiar dengan 2 kata itu kan? Orangtua kita dahulu mengartikan bau tangan ini dengan anak yang tidak mau terlepas dari ibu dan selalu minta digendong. Bau tubuh ibu yang selalu ingin dicium dan dirasakan anak, sehingga si anak tidak mau dengan orang lain selain ibu. Mengalami ini? BAGUS! Kita ambil hikmahnya dan nikmati. Silahkan gendong anak, silahkan lengket dengan anak. Why? Satu, menggendong merupakan proses mendekap erat yang disukai anak-anak karena bentuk kenyamanan berdekatan dengan orang yang dicintainya, dan orang yang paling dibutuhkannya saat itu. Hal ini menjadi modal kedekatan kita si orangtua sampai akhir hayat anak. Dua, keinginan digendong ini tidak akan berlangsung lama, segera setelah anak sadar serunya berlari-lari, anak akan memilih bergerak. Segera setelah anak sadar melakukan apa-apa sendiri adalah mengasyikkan, anak akan memilih mandiri. Jadi buat apa segera mengakhiri proses berdekatan ini di tahun-tahun awal kehidupan anak? Sungguh, lagi-lagi bedakan dengan memanjakan.

Menyusui Modal Awal
Begitu pula dengan menyusui. Proses menyentuh yang powerful. Bayangkan, selain kontak kulit bayi dengan ibu nya, anak berdekatan dengan detak jantung ibu dan merasakan apa yang ibu rasakan. Detak jantung berdebar artinya ibu sedang insecure (takut, marah), si anak yang sedang berdekatan itu akan ikut merasakan, dan mungkin menjadi tidak karuan juga dan diakhiri menangis atau rewel. Semua ibu menyusui diluar sana paham dengan situasi ini, betul? Ingat, bahwa menyusui bukanlah berhenti pada proses pemberian makan saja, tapi menyusui pada payudara merupakan proses menggendong, mendekap, menyentuh, mengelus, menatap, you name it, komunikasi non-verbal yang efeknya luar biasa. Karena dilakukan berulang-ulang, sering, selama bertahun-tahun. Tercipta BONDING.

Percayalah, ini modal awal pembentukan karakter.

Selanjutnya, anak-anak beranjak usia, tidak berhenti memanjakan dalam bentuk pelukan, elusan di kepala, tatapan hangat saat dia bercerita, mencium pipi/kening, gandengan tangan, merangkul, dan terkadang tidur bareng di kamar anak/ruang keluarga. Menjaga romantisme lewat sentuhan.

Sebuah kisah dari suku Papago, suku Indian di Benua Amerika. Anak-anak Papago yang seolah-olah mendapatkan kemanjaan dari orangtua nya, seperti bayi selalu digendong dan mendapatkan kasih sayang/afeksi serta kehangatan yang besar. Setelah dewasa, anak-anak Papago ini justru menjadi mandiri dan tidak memperlihatkan ketergantungan dan tuntutan perhatian dari orangtuanya. Mereka pekerja keras dan mau meninggalkan komunitasnya untuk merantau mencari uang, namun keterikatan kepada keluarga nya tetap kokoh. Anak yang masa kecilnya puas mendapatkan afeksi, menjadi lebih kalem dan mandiri. (Rohner, 1975)

Jadi, apakah memanjakan dengan kasih sayang itu perlu?
Tidak hanya perlu, namun PENTING.