Kasih ASI? Tanya Saya!

Kemarin seorang teman berikan testimoni bahwa Pin ‘Kasih ASI? Tanya Saya’ (KATS) yang dipakainya membawa keberuntungan. Orang-orang sekitarnya menjadi tergerak bertanya tentang ASI karena melihat pin tersemai dikerah bajunya.

Ternyata tantangan tersendiri dalam membuat suatu alat kampanye, memerlukan waktu dan kreativitas tinggi. Ingin rasanya berbagi dibalik pembuatan kampanye Kasih ASI? Tanya Saya karena ini tidak sekedar kata-kata (baca: tagline) namun makna yang tersimpan. Berikut penjelasannya agar menjadi pembelajaran bersama.

Warnanya yang mencolok, perpaduan antara hitam dan oranye membuat menarik untuk dilirik. Pemilihan warna kontras didasari untuk tidak menggunakan warna-warna lembut khas produk ibu & bayi, seperti pink dan biru muda.

Tagline ‘Kasih ASI? Tanya Saya’ pun terkesan menantang siapapun yang melihatnya. Menantang untuk mencari tahu lebih jauh tentang hal yang awalnya agak canggung untuk ditanyakan karena bersifat pribadi. Kata ‘kasih’ digunakan karena mengandung  2 arti, memberi dan cinta. Dua arti tersebut menggambarkan proses menyusui yang memberi cinta tiada henti.

Logo ditengah, pasangan breastfeeding dyad – ibu dan bayi, sementara lingkaran berarti lingkungan yang mendukung menyusui mulai dari ayah, keluarga, kantor, petugas Kesehatan, dan Masyarakat. Dalam pembuatannya, logo ini mengalami beberapa kali perubahan dan pengetesan di Masyarakat.

Pin ‘Kasih ASI? Tanya Saya’ diciptakan* tahun 2007 sebagai tanda pengenal para konselor laktasi terlatih. Hal ini dilakukan agar masyarakat mulai bertanya tentang menyusui, dengan begitu konselor laktasi dapat memulai memberikan informasi relevan dan mencoba menggali permasalahan menyusui si ibu. Tanda pengenal ini juga berguna menandai seseorang  (baca: konselor laktasi) sebagai sumber informasi terpercaya dalam memberikan informasi tentang manajemen laktasi yang tepat dan lengkap.

Bertanya belumlah menjadi budaya orang-orang kita, khususnya menanyakan hal yang sekiranya sesuatu yang dianggap natural seperti menyusui. Jika seorang ibu merasa ASInya kurang, si ibu kerap berpikir, hal ini juga terjadi pada saudaranya, rekan kerjanya, tetangganya, dan tidak menganggap ini suatu permasalahan.

Dalam dunia menyusui, merasa-ASI-kurang merupakan akibat dari sebab yang beragam. Bisa saja karena posisi dan pelekatan saat menyusui yang kurang tepat, atau karena bayi yang kerap menangis dan ibu langsung mengasosiasikannya dengan jumlah ASI yang kurang, dan masih banyak lagi. Jika tidak segera ditangani atau dicari penyebabnya, maka akan berujung pada percaya diri ibu yang menurun, intensitas menyusui yang berkurang, dan gawatnya, beralih kepada cairan selain ASI.

Disinilah peran dari Konselor Laktasi yang dapat membantu ibu mencari penyebab dan inti masalah agar bersama mendapat solusi. Konselor Laktasi terlatih juga diharapkan dapat memberikan informasi yang relevan dan bantuan praktis yang dibutuhkan si ibu dengan cara konseling dan tanpa menghakimi atas apapun yang telah dan/atau yang sedang ibu lakukan. Kami akan duduk sama tinggi, berbagi, berdiskusi, dan berada disisi untuk berikan dukungan.

“Attributes of the peer counsellors included their friendliness, being women and giving support in a familiar and relaxed way” (Jolly Nankunda, 2009)

Jadi, bagi para Konselor Laktasi: gunakanlah kemanapun pergi, biarkan orang-orang sekitar melihatnya, menaruhnya dalam ingatan, memilah pertanyaan apa yang hendak ditanyakan, karena dikemudian hari tidak jarang anda akan mendapatkan orang mulai bertanya. Dan dengan begitu, sedikit demi sedikit budaya malu bertanya pun lenyap.

Bagi para ibu dan anggota Masyarakat lain: jika menemukan orang dengan pin KATS silahkan jangan segan untuk bertanya karena anda bertemu orang yang tepat yaitu Konselor Laktasi yang terlatih menjawab kekhawatiran anda dalam menyusui atau apapun yang berhubungan dengan manajemen laktasi.

 

*dalam kampanye Kasih ASI Tanya Saya, pin diciptakan bersamaan dengan poster, spot radio dan jingle.

Photo: Siti Mulyanni

Photo : Mercy Corps Indonesia

Relaktasi Bagi Yang Ingin Beralih Dari Susu Formula ke ASI

dimuat di Tabloid Nakita edisi Maret 2011 no. 622

Miris mendengar berita akhir-akhir ini dimana banyak ibu yang diwawancara mengatakan jika produk susu yang ia berikan kepada anaknya termasuk dalam produk susu formula yang berbakteri, maka dengan mudahnya mereka menimpali “ya saya cari merek lain yang tidak berbakteri, abis mau bagaimana?!”

Pertanyaannya, apakah kita bisa pastikan susu formula pengganti yang ibu berikan betul-betul aman dari bakteri sakazaki atau risiko lain? Bukankah tanpa isu berbakteri pun, susu formula sudah memiliki daftar panjang risiko tersebut? (lihat tulisan “Alasan Medis untuk Tidak Menggunakan Pengganti ASI di http://aimi-asi.org/2011/02/alasan-medis-pengganti-asi/)

Agar tidak terperangkap pada solusi jangka pendek tersebut (baca: mengganti dengan merek lain), mari kita lihat apa saja risiko lain dari penggunaan susu formula.

Selain terdapat serentetan alasan medis untuk tidak menggunakan pengganti ASI, masih banyak juga kerugian-kerugian lain dilihat dari faktor  kandungan susu formula, perlengkapan (baca: botol dan dot), sanitasi, alam, dan ekonomi.

  1. Kandungan susu formula. Susu formula berasal dari susu sapi yang komposisinya diubah menyerupai ASI. Susu formula saat ini sudah ditambahkan komposisi yang tidak secara alami terdapat pada susu sapi, misalnya DHA, AA, sfingomielin, lactofferin, dsb. Kandungan susu sapi sangat terbatas dibanding ASI. Dan komposisinya tidak berubah sesuai kebutuhan bayi.
  2. Botol dan dot. Botol dan dot terdiri dari plastik jenis tertentu yang harus selalu bersih dan higienis. Oleh karenanya, botol dan dot perlu disterilkan. Untuk mensterilkan botol dan dot diperlukan bahan bakar dan air. Ditambah lagi, penggunaan dot menyebabkan bingung puting (kondisi dimana bayi sulit melekat pada payudara ibu saat menyusui langsung) dan kerusakan dini pada gigi.
  3. Sanitasi dan akses ke air. Dalam membuat susu formula diharuskan menggunakan air bersih yang dididihkan. Untuk diketahui saja, kurang dari 50% penduduk jakarta punya akses ke air pipa, 90% air sumur dangkal terkontaminasi bakteri coli (menurut BPS 2006)
  4. Alam dan polusi. Botol dan dot memerlukan plastik, kaca, karet, dan silicon yang semuanya tidak dapat didaur ulang. Juga memerlukan pabrik, distribusi, pengepakan yang menimbulkan masalah polusi.
  5. Ekonomi. Ilustrasi perhitungan Konsumsi susu formula pada seorang bayi memerlukan minimal 7 kaleng/bulan @ Rp 60.000.  Berarti untuk seorang bayi dikeluarkan minimal Rp 420.000. bagaimana nasib orang yang miskin jika harus membeli susu formula?

Pada dasarnya, kami para pendukung gerakan menyusui bukanlah korban dari polemik ini, karena ada atau tidak berita seperti ini, kami tetap dengan kampanye kami: mendukung, mempromosikan dan melindungi pemberian ASI di Indonesia.

Namun harus saya akui, ini menjadi salah satu momen yang tepat untuk kembali mengajak masyarakat akan pentingnya menyusui, dan mengingatkan untuk kembali ke ASI.

Apa maksudnya?

Jika seorang ibu yang memiliki anak usia 0 – 2 tahun, dapat melakukan relaktasi. Relaktasi adalah suatu praktek kembali menyusui bayi langsung ke payudara setelah dalam kurun waktu tertentu tidak menyusui atau menyusui secara parsial (mencampur pemberian ASI dengan  makanan/minuman selain ASI) karena alasan tertentu. Relaktasi dapat dilakukan dengan diawali niat yang kuat untuk kembali menyusui. Ajak suami dan anggota keluarga serta orang-orang terdekat untuk mendukung ibu melakukan relaktasi. Semakin muda usia bayi, semakin mudah relaktasi dikerjakan dan berhasil.

Tahapan relaktasi:

  1. Hentikan total penggunaan dot dan botol, berikan susu atau makanan lain dengan menggunakan gelas atau sendok, agar bayi dapat lupa pada dotnya, dan mau menghisap ibu.
  2. Persering kontak kulit antara ibu dan bayi. Guna dari kontak kulit ini agar hormon laktasi  dirangsang oleh hisapan mulut bayi. Kegunaan lain, dapat mencium bau ibunya dan mengakrabkan diri dengan si ibu.
  3. Bila bayi sudah mau menetek langsung, siapkan selang NGT atau pipet untuk meneteskan / mengalirkan cairan yang ada dalam wadah. Letakkan wadah pada tempat yg lebih tinggi dari badan (baca: payudara) ibu. Wadah bisa berisi ASI perah (ASIP) atau susu formula yang sedang dikonsumsi bayi saat itu. Ujung selang dimasukkan kedalam wadah berisi cairan, sementara ujung satu lagi dilekatkan di payudara, tepat didekat puting. Tahapan ini dilakukan agar ketika bayi menempel pada badan ibu dalam posisi menyusui, tidak akan frustasi dengan jumlah ASI yang masih sedikit. Ini dilakukan untuk memancing produksi, karena hisapan bayi dapat merangsang hormon bekerja.
  4. Perbaiki posisi dan pelekatan  saat menyusui bayi. Cari posisi yang tepat dan nyaman untuk ibu dan bayi. JIka bayi merasa tidak nyaman dengan posisi (biasanya karena tidak terbiasa disusui) maka, sediakan waktu untuk berdekatan lebih lama. Selalu berkomunikasilah dengan bayi, ajak bicara tentang proses relaktasi yang harus dilalui bersama.
  5. Minta bantuan orang lain untuk memegang wadah berisi ASIP/cairan lain tersebut supaya jalannya lancar selama melintasi selang. Jika menggunakan pipet, orang itu dapat membantu meneteskan cairan tepat diatas puting. Pastikan tetesan itu tidak berhenti, agar bayi tidak kembali frustasi. Jika disekitar tidak ada orang, maka gantunglah wadah disekitar leher ibu, atau letakkan wadah di meja.
  6. Jika selama ini anak mendapatkan cairan selain ASI, susu formula misalnya, gunakan susu formula tersebut sebagai cairan dalam wadah relaktasi. Secara perlahan kurangi dan diganti dengan ASI perah, karena seiring stimulasi yang dilakukan oleh bayi ibu, ASI pun berproduksi dan dapat diperah.
  7. Memerah ASI. Mengeluarkan ASI dari payudara dapat menstimulasi hormon laktasi untuk mulai kerja kembali dan meningkatkan persediaan ASI. Memerah ASI dilakukan setelah menyusui bayi secara langsung (bukan sebelum). Memerah dapat dilakukan dengan tangan atau pompa.
  8. Siapkan waktu dan kesabaran yang tinggi dalam menjalani proses relaktasi karena proses ini tidak bisa diukur jangka waktunya. Semua tergantung niat dan usaha masing-masing individu.
  9. Kontak Konselor Laktasi terdekat jika dirasa memerlukan bantuan praktis dalam menerapkan langkah-langkah kembali menyusui ini.

Lalu untuk anak yang lebih dari 2 tahun, sekiranya diumur sekian anak sudah cukup besar untuk memakan makanan yang ada di rumah, tentu dengan pola nutrisi berimbang.

Banyak yang bertanya pada saya. Jadi apakah perlu diberi susu? Susu merupakan salah satu jenis protein, dimana protein bisa kita dapatkan dari makanan seperti tempe, tahu, telur dan sebagainya.

Mari kita berpikir jangka panjang dalam mencari penyelesaian dari polemik susu formula yang berbakteri ini. Yuk, tidak ada kata terlambat untuk kembali ke ASI, selamatkan generasi masa depan bangsa.