1 + 1 = 7

Di pelaminan biasanya melihat 3 pasangan yang menerima ucapan selamat dari tamu: pengantin, orangtua mempelai laki, orangtua mempelai perempuan. YES?

Ini: saya, mas yang sambil menggendong anak no.4, dan 3 anak cowok pertama. Total 6 juga sih. Terkadang ditambah orangtua saya, tergantung tamu yang datang. Untung panggung pelaminan tidak rubuh ya. hehehe…

Lagi-lagi tidak lazim, kita ramai-ramai ber-6 bergandengan tangan memasuki ruang resepsi dari arah belakang gedung. Lalu sambutan shohibul bait, dalam hal ini mas dan saya. Mas mengucap terima kasih atas doa restu keluarga dan teman-teman, menceritakan sedikit perjodohan kita dan tentu memperkenalkan anak-anak yang tanpa dilatih sebelumnya, berdiri teratur dan kalem disamping ayah-mami nya.

“saya dan diba ini, 1 ditambah 1 bukan 2 tapi 7. Jelas bukan matematika biasa, tapi matematika Tuhan.”

Mas membawa 4 anak, si 12 tahun, si 8 tahun, si 4 tahun dan si 7 bulan. Saya dengan si 13 tahun. Total 5 anak melengkapi dan meramaikan 2 orang dewasa yang memutuskan menikah karena tidak lain tidak bukan dari restu anak-anak. Dua anak beranjak remaja pun menjadi patron kami melangkah. Mas bertanya pada anak terbesarnya, pun saya. Tentang memulai keluarga kembali dengan orang baru. Kalau dari pihak saya, tidak sulit karena sudah lebih dari 10 tahun saya dan si anak tunggal menjalani kebersamaan dan seperti sudah saatnya memulai keluarga kembali. Dari pihak mas, ditinggal meninggal oleh sang bunda tentu bukan perkara mudah bagi anak-anak dan mereka merindukan posisi itu terisi kembali. Mendapat lampu hijau dari anak-anak membuat langkah lebih ringan. Memantapkan niat awal.

Masa perkenalan dilalui dengan cepat, bukan karena terburu-buru namun semesta luar biasa mendukung. Anak-anak cepat sekali akrab dengan saya, begitupula sulung saya yang menerima mas dengan tanpa ganjil memanggilnya ayah. Keakraban ini juga tidak dipaksakan, betul-betul mengalir. Semua orang yang menyaksikan sempat bingung dikala si anak perempuan menempel bergalendot dengan mami baru nya. Saya pun kagum dengan penyesuaian cepat anak-anak terhadap istri dari ayahnya, dan suami dari ibu nya.

Seru mengarungi bahtera rumah tangga yang tadinya hanya berdua menjadi berenam! Belum lengkap bertujuh, karena anak ke-5 kami masih dititipkan kepada ibu susunya, sehingga belum bergabung sampai waktu yang ditentukan. Dari yang tidak punya suami menjadi ada suami, dari 1 anak menjadi 5 anak. Jomplang? awalnya saya berpikir begitu, namun mas sampaikan:

“Saya punya keyakinan bahwa kamu bisa, kamu punya modal untuk menjadi ibu dari 5 anak, dan tidak ada saat yang lebih tepat dari sekarang.”

Ah menyenangkan, terima kasih atas kepercayaan ini. Betapa berwarnanya hidup! Let’s embrace what has God planned for you.

ALHAMDULILLAH…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *