Unique Family of Mine

Mih, keluarga kita itu keluarga unik

itu yang dikatakan suami saya, mengingatkan bahwa penggabungan 2 keluarga menjadi 1 memang menjadi tidak biasa .

Setiap 10 hari terakhir ramadhan dan Lebaran misalnya, anak-anak dari suami saya akan mengunjungi kakung dan yangti nya di Solo. Keluarga Solo merupakan keluarga besar Almarhumah Bunda. Disana mereka berkumpul bersama karena tradisi yang diterapkan sejak awal, yaitu pulang kampung. Artinya, di hari-hari spesial tersebut (baca: Lebaran), sudah pasti formasi keluarga saya tidak lengkap. Kebalikan dari keluarga kebanyakan dimana ketika lebaran menjadi ajang berkumpul dan dari segala penjuru datang ke satu titik, rumah orangtua/kakek nenek/yang dituakan. Lebaran, saya dan suami yang notabene punya 5 anak total, hanya berduaan. Solat Ied berduaan, sungkeman berduaan. Alhamdulillah kalau makan sih gak berduaan, kita pakai trick open house, langsung panggil2in tetangga untuk makan bareng di rumah setelah solat Ied. Hari ke-2 syawal bianya suami dan saya menyusul anak2 ke Solo deh.

Ok, mungkin harus dijelaskan dulu letak keunikan keluarga saya ini. Menikah 2016: Suami dengan 4 anak, saya dengan 1 anak. Yak walau punya anak 5, kita ber-7 tidak tinggal dalam satu atap kesehariannya. 2016-2018 formasi tempat tinggal di 4 titik: Jakarta-Depok-Serang-Solo. Jakarta, anak saya yang tinggal bersama ibu bapak saya karena sekolahnya di Jakarta. Depok, rumah suami yang tentu kini menjadi tempat tinggal tetap saya bersama anak ke 3 dan 4. Depok yang sekiranya banyak orang tahu terletak berdampingan dengan jakarta, tetap terlalu jauh untuk jarak rumah-sekolah-rumah, makanya anak saya tetap tinggal di jakarta demi menyelesaikan sekolahnya yang terletak 13 km dari rumah kakek neneknya (itu saja terhitung jauh kan). Serang, pesantrennya anak pertama dari suami saya. Yang artinya boarding school, baik sekolah maupun tempat tinggal. Solo, anak bungsu suami saya tinggal bersama Bulek yang juga ibu susu dari anak kami yang kini berusia 2.5 tahun. Nah mid 2018, ya baru-baru ini, formasi tempat tinggal berkurang menjadi 3 titik: Depok-Solo-Magelang. Mayaaaaan, walau titel mamah AKAP masih dibahu saya hihihi. Depok remain the same, tempat tinggal kami, jadi domisili KTP dan KK. Solo pun masih ada anak bungsu kami, dan kini Magelang, SMA nya 2 remaja kami yang happendly to be satu angkatan, walau usia terpaut 8 bulan.

ini leads ke poin unik berikutnya, ketika 2 anakmu berada di satu sekolah satu angkatan, tentu semua orang akan bertanya:

Kembar ya?
Nggak.

Adik Kakak?
Iya.

Kok bisa?
Bisa.

Oh, yang satu anak akselerasi ya bu?

Karena sesungguhnya sang oponen tidak mungkin menyampaikan, Oh anak ibu yang 1 pernah tinggal kelas ya? yekaaaan hahaha…

Sampai satu hari salah satu guru di sekolah mereka:

Kembar?
tidak pak

Adik kaka?
iya

satu ibu?
nggak.

JACKPOT! Finally ada yang mampu berpikir sampai kesana. Hats off you Sir

Kan saya tidak perlu menjelaskan kepada semua orang yang bertanya toh. Jadi gini mbak/pak, saya menikah lagi (timbul tanda tanya oponen: kenapa menikah lagi, mana suaminya yang pertama, cerai hidup atau mati, berapa lama dia menjanda, gimana cari duitnya, dll); suami saya juga menikah yang kedua kali (timbul tanda tanya oponen: apakah poligami? istri keberapa? sama istri sebelumnya cerai hidup atau cerai mati, berapa lama menduda, dll); Suami saya bawa 4 anak (timbul tanda tanya oponen: banyak amat anaknya, kok bisa, emang kemana ibunya, kalau cerai hidup kenapa semua di suami, sebelum nikah siapa yang taking care anaknya, dll). Belum lagi kalau saya tambah dengan cerita: iya kalau anak saya, ayahnya meninggal dunia, anak-anak suami saya bundanya meninggal dunia (timbul ekspresi kasihan yang tidak berkesudahan). belum lagi cerita tentang 5 anak kami tinggalnya di kota yang berbeda-beda (timbul tanda tany……ah sudahlah!) jontor bibir ini, waktu per ngobrol per orang/group paling sedikit 40 menit. hitung deh hahahahahahahahaha.

keunikan berikutnya. Saya dan suami bertemu dan menikah dikala kami sudah ditengah perjalanan kehidupan, sudah punya pengalaman macam-macam walau kadarnya beda-beda. Kebayang, pasutri yang fresh menikah pertama kali di usia sesuai dan memulai bersama-sama saja bisa banyak perbedaan dan ketidakcocokan. Ini newly wed with not so newly age. hahahahahaha.

but overal, i do enjoy marriage life, coming from a 12-year-singleparent-experience. Moreover, I enjoy family with kids. i used to have only one kid, now i have 5. Thanking my husband would never be enough, giving this new life and new experience. Am so ready for us, for this life.

Ini kenapa jadi bahasa inggris sih? hahahhahahahhahahaha

 

Unplanned TimeOut

Ikut suami dinas ke Bali in short notice. Sambil keluarkan jurus rayuan stay di Bali, mengingat pak suami kalau ke Bali hanya kerja saja dan perlu diajak rileks paska hasil lab nya yang bikin ketar ketir.

Pergilah kami berdua, mau ke Ubud namun erupsi gunung agung membuat saya changed plan ke Uluwatu, ke selatan saja biar aman. Orang hotel sempat bingung, kok check in hanya 1 hari 1 malam saja, dimana jarang ditemui tamu stay sependek itu😅.

Well, nebeng dinas kan.. remember?😆

Turns out, pak suami need to relax longer, yeay! So we extend another day with such healthy activities: jalan kaki ke pantai Padang-padang yang hanya 1 km dari hotel, berjemur di pantai (dia sih, saya mah kepanasan😅), nikmati sunset (di Uluwatu spesial nya sunset, ga ada sunrise), makan makanan organik, nge-gym, bener2 tanpa itinerari layaknya turis bule kalau ke Bali. Lay back, santai, kalau mau pergi ya pergi, nggak ya nggak. Ngobrol catching up lots of stuffs. Quality time hubby and I, which every marriage couple needed. Lumayan nge-cas kesibukan suami dari pekerjaan dan kesibukan saya dari mengurus sekolah anak2 yang antar kota antar propinsik itu. Titelnya Mami AKAP :)

We went back home with new spirit, healthier, and stronger connection to one another. Lets roll out this life together, Yah..

Launching Buku Sampah Baterai karya Rj

Sebagai Mom sekaligus manajer (momajer) untuk @ewasterj, mengajarkan saya banyak hal. Antara lain, harus bisa membedakan thin-line antara mempromosikan karya dan meng-expose anak. Mengajarkan bagaimana mengedepankan hak anak dari sekedar mengiyakan liputan media. Sejak Rj punya karya buku & gerakan, pembagian waktu bersekolah, bermain & jalankan komunitas yg ia rintis menjadi challenge. Saya berperan penting dalam mengingatkan keseimbangan kegiatan2 itu. But overall, @rafajafar merupakan anak yg mudah diajak kerjasama, bisa sampaikan tidak mau dan tidak setuju jika kita diskusi dan berikan alasan yg bisa saya terima. Rj adalah guru kehidupan saya. Terima kasih atas kepercayaanmu, nak. I wish you nothing but the best, terkhusus di sekolah barumu, SMA Taruna Nusantara. Good luck son!
⬇️
♻️
Press conference, Launching Buku Sampah Baterai, & Talkshow Sampah Elektronik yang Dilupakan – Jakarta 4 Juli 2018. Rj & I would like to thanks Ato @jafarhafsah Nin @ony_jafar , Ayah @myanaaditya & seluruh keluarga atas endless supports, penerbit @kanakatacreative Jessica Huwae & Rully, partner event prescon @amandaandono , dukungan dari #ewasteRJteam @nandyanandyo@aviananda @martinasds , organisasi @balifokus @yuyundrwiega@buftheimsonia @tioseptiono , Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ibu Tuti Hendrawati, komunitas Bandung Bijak Energi Waste4Change @TOYL, & KOWANI.

Special thanks to all media/press yang sudah hadir dan meliput. Last but not least terima kasih kepada semua yg sudah mendukung Rj dan gerakan ewasteRJ nya dari awal, sejak 2015. Semoga persembahan buku2: #sampahelektronik 2015 & #sampahbaterai 2018 dapat menambah wawasan dan kepedulian terhadap barang elektronik yang sudah tidak dapat dipakai dan bertumpuk itu. Dan semoga Rj bisa menjadi inspirasi dan motivasi generasi jaman now utk sll berkontribusi bagi negeri dengan melahirkan karya-karya positif.

Buku dapat dipesan di sini link di bio @ewasterj . Press release ada di IG @ewasteRJ
Salam ewaste!

Our Double Champions

Kelulusan SMP ini tentu PR terbesar dari orangtua adalah memfasilitasi anak-anak mendapatkan SMA terbaik yang diminati anak dan direstui orangtua (PR terbesar anak, ujian akhir dengan baik).

Januari, kami antarkan Rafa dan Afkar mengunjungi beberapa SMA yang sekiranya cocok dan selalu masuk dalam diskusi, salah satunya Taruna Nusantara Magelang. Sebuah sekolah semi militer, berasrama, yang program utamanya adalah mempersiapkan pemimpin bangsa. Tidak disangka, kunjungan langsung ke SMA TN itu membuat anak-anak menjatuhkan pilihan sekolahnya.

Kami pun lanjut ke tahap pendaftaran dan serangkaian tes. Tes pertama adalah tes akademik, sama dengan matpel UN. Susah? Banget kata anak-anak. Dengar-dengar memang soalnya adalah soal olimpiade matematika. Baiklah. Saya dan ayahnya hanya bisa menguatkan lewat doa. Alhamdulillah tahap ini Rafa dan Afkar lolos.

Tes berikutnya, tes kesehatan (termasuk kesehatan jiwa), dan psikotes. Tahap ini memang anak-anak diperiksa dari ujung rambut sampai ujung kaki, plus mental dan psikologi nya. Alhamdulillah lolos.

Tahap selanjutnya, serangkaian tes yang diadakan di SMA TN di Magelang. Sebelum terbang, memohon doa dari para kakek nenek. Mereka menginap 4 hari utk melakukan tes wawancara (ini esensial) baik tertulis maupun tatap muka, tes kesehatan jiwa yang kedua di RSJ Magelang, tes penempatan IPA/IPS & pantukhir. Selama 4 hari disana mereka diperlihatkan kehidupan berasrama, berkelakuan seperti siswa asrama.

Akhirnya pertengahan juni lalu, pengumuman final pun keluar. Dari hampir 4000 pendaftar, Rafa dan Afkar lolos sampai tahap akhir, masuk menjadi siswa TN angkatan 29 yg menerima hanya 360 siswa. Alhamdulillah sujud syukur.

Selamat anak-anakku Rafa dan Afkar, sudah luar biasa dan semangat melalui seluruh rangkaian tes dan lulus dengan nilai terbaik. Semoga 3 tahun kedepan di SMA TN bisa menjadi pembekalan untuk masa depanmu ya Nak. Bangga ayah mami mendampingi dan menghantarkan kamu berdua😘😘

Terima kasih tak terhingga atas doa & support yg tak henti dari nin ato, oma, kakek nenek, kakung ating, & seluruh keluarga. GroupHug :’)

Sentuhan Maskulin Dibutuhkan oleh Pendidikan

Saya berada di sekolah anak untuk menonton assembly kelas, yaitu penampilan seni tari, menyanyi, dan acting. Antusias karena ini pertama kali saya melihatnya manggung dari jarak 2 meter saja. Saya menikmati seluruh penampilan dari awal sampai akhir, sesekali memulai tepuk tangan dikala penonton terlalu sunyi entah karena terpana atau tipikal orang indonesia yang agak sulit memberikan tepukan kecuali diakhir penampilan itu pun jika diminta oleh MC. Lebih menikmati karena pihak guru sebagai pelatih menambahkan bumbu komedi pada script drama anak-anak, tidak ketinggalan sound yang mantap nyaringnya untuk aula sebesar itu. Ohya dan satu lagi, guru-guru menambahkan tayangan layar dengan foto-foto tiap anak dan keluarganya. Ah mengesankan

Satu hal yang ingin saya garis bawahi yang semoga bisa menjadi input bagi para pendidik dan pengasuh, adalah gerakan para siswa laki-laki yang kurang sentuhan maskulinitas. Ketika bernyanyi, anak laki-laki gerak langkah kaki kiri-kanan, untuk ini perempuan bisa menampilkan gemulai ditambah tangannya ikut menari. Ketika laki-laki menari, tidak ada power/tenaga sepanjang gerakan, menendang hanya menendang pura-pura dan pendek, meloncat sekedar jinjit. Capek kah? Atau gerakannya memang cukup boring bagi anak laki-laki? Ketika acting, peran seperti petani, pilot, masinis, pengusaha, anggota DPR RI, TNI, yang sudah dengan kostum gagahnya masing-masing, lagi-lagi diberi gerakan langka kaki kiri-kanan saja. Jujur saya tegaskan ulang: kurang sentuhan maskulin.

Iya, memang ini penampilan anak-anak kelas 4 SD, namun bijak rasanya jika disesuaikan saja porsi gaya perempuan dan laki-lakinya. Khusus untuk gerakan laki-laki dalam berkesenian, POWER adalah segalanya, agar membedakan dengan gemulainya gaya perempuan.

Tentu ini menjadi concern, karena saya memiliki 3 anak laki-laki, dan punya pengalaman mengawal lebih dari 40 remaja laki-laki usia SMA di yayasan yang saya asuh, lalu kini dosen untuk mahasiswa S1 dimana banyak remaja laki-laki yang masih belasan tahun terlihat lemas, tidak semangat, bergerak lambat. Terus terang, agak risih jika dihadapan saya terlihat sosok yang tidak bergerak cepat, apalagi laki-laki.

Saya dapat data dari teman, tentang prosentase guru menurut jenis kelamin dan jenjang sekolah, menurut Kemendikbud. Dari 100 responden guru SD perempuan 62.98%, laki-laki 37.02%. Guru SMP perempuan 43.03%, laki-laki 56.97%. Guru SMA dan SMK perempuan 53.72%, laki-laki 46.28%. Guru SD sungguh signifikan jauh lebih banyak berjenis kelamin perempuan dibanding laki-laki. Usia SD yang durasinya paling lama diantara jenjang sekolah lain, yaitu 6 tahun, dihadapkan dengan feminitas. Sedikit banyak berpengaruh pada 5 hari sekolah dikali @6-8 jam berada di sekolah.

Benar bahwa pendidikan dan pengasuhan memang pada mayoritasnya menjadi porsi perempuan: di rumah dengan ibu, di sekolah dengan ibu Guru. Meanwhile, merefer pada buku Budaya Organisasi Achmad Sobirin, terdapat negara yang maskulin dan feminin. Ini menarik. Mengingat Indonesia merupakan negara yang menganut budaya patrilineal.

Sobirin membedakan masyarakat maskulin dan feminin, yang saya kutip beberapa saja. Negara maskulin seperti Jepang, Inggris Raya, Jerman, Austria, Meksiko. Negara Feminin seperti Swedia, Norwegia, Belanda, Denmark, Finlandia, Thailand, Guatemala. Negara maskulin secara umum meletakkan nilai-nilai masyarakat dominan pada kemajuan ekonomi, sementara negara feminin dominan pada kepedulian & menjaga hubungan dengan orang lain. Di dalam keluarga masyarakat maskulit, seorang ayah lebih banyak berhubungan dengan fakta dan realita, ibu dengan perasaan. Masyarakat feminin, baik ayah maupun ibu bersama-sama memperhatikan fakta sekaligus perasaan. Dilihat dari cuplikan Sobirin diatas, Indonesia masuk ke kategori negara maskulin.

Pendidikan di Indonesia memerlukan sentuhan maskulin. Bahwa perlu jumlah yang lebih banyak akan bapak-bapak guru. Bahwa institusi pendidikan bijak jika mempertimbangkan mempekerjakan 50-50 guru perempuan-laki. Serta diingatkan bahwa anak-anak usia TK dan SD pun difasilitasi untuk  berkegiatan berbau maskulinitas.

Sementara di rumah, para ibu yang tentu mendapat daulat lebih banyak dalam pengasuhan sehari-hari, mengarahkan anak laki-lakinya kepada perilaku dan kegiatan yang mengasah sisi maskulin. Bertingkah laku sehari-hari diajarkan lebih gentlemen: menghormati perempuan baik ke ibu kaka adik, membebankan house-chores yang lebih ke fisik, berikan tanggung jawab lebih semisal menjaga adik. Sementara pekerjaan seperti memasak, mencuci  yang mungkin ranah feminin di rumah tangga, sangat baik diperkenalkan. Tujuannya tentu diniatkan untuk pembekalan menjadi individu yang mandiri kelak.

Bagaimana peran bapak dalam pendidikan dan pengasuhan? wah itu satu tulisan lagi… :)

Berkompetisi: Bukan Menang Kalah, Namun Ajang Melatih Mental

I have never set a bar for my kids to get medal or trophy. Mencoba lebih menghargai proses dibanding hasil. Hal ini saya tekankan bukan hanya untuk anak-anak, tapi juga saya sebagai orangtua: konsistensi mendukung dan mendampingi every little steps, yang ternyata tidak mudah karena terkadang situasi sekitar menuntut lebih.

Alhasil, jika anak bisa mencapai satu prestasi yang membuahkan medali atau piala, buat kami itu BONUS. Menjadi sebuah rekognisi dan penghargaan atas USAHA dan PROSES selama ini.

Jujur dan tanpa berlebihan, saya selalu membiasakan ajak anak-anak untuk refleksi dan evaluasi paska kompetisi, karena dibalik hasil yang diraih ada banyak sekali lesson learnt. Taruhlah seperti, betapa memenej waktu itu hal esensial yang jika tidak dilakukan bisa runyam. Menghargai komitmen orang lain yg berada dalam tim dengan datang tidak telat dan aktif berpartisipasi. Melakukanperencanaan dan persiapan dengan baik dan cukup. Mengerjakan pekerjaan rumah sebagai bentuk pengingat, dan masih banyak lagi.

Sebagai orangtua yang dalam hal ini berperan sebagai fasilitator, bijak jika kerap ingatkan anak bahwa dalam satu kompetisi ada yang menang ada yang tidak. Jika belum menang itu artinya pemicu untuk kita berlaku lebih baik lagi di kemudian. Terima dengan sportif. Lagi2, usaha nya lah yang kita hargai dan menjadi pembahasan. Jika terbukti belum maksimal, diperbaiki. Jika terbukti ada kesulitan, dicari solusi. Jika terbukti ada missed management, diarahkan. Jika terbukti ada kurang kordinasi, efektifkan komunikasi. Kalah terkadang malah menjadi pembelajaran nomor satu untuk terus berkembang dan tidak putus sampai disitu sahaja.

Kalah itu momen untuk introspeksi diri. Menang itu momen untuk tidak berpuas diri

Kompetisi, sebenarnya tidak hanya sekedar mengejar embel-embel juwara, namun dapat difungsikan sebagai ajang meningkatkan rasa percaya diri, mengukur diri, tidak lupa juga membantu anak untuk menjadi sportif, berjiwa profesionalitas, dan terpenting, mengasah mental.

Karena Nak, diluar sana, hidup tak lepas dari kompetisi. Bersiaplah.

EE25606A-54E3-4690-A047-065406228241

Liburan Di Jakarta? Ke Kota Tua aja

Perjalanan ke kota tua ini sudah direncanakan, namun saya total lupa bahwa tiap senin semua museum tutup. Wait, it did not hold our journey thou.

Kita mulai dengan naik kereta commuter dari stasiun depok cuss langsung ke destination akhir, stasiun kota tua.

Tiap anak dapat tanggung jawab. Afkar urusan perduitan (segala bentuk bayar, beli, nawar, hitung). Rj urusan dokumentasi (foto, video, cari spot & angle foto, termasuk menyimpan semua gadgets). Nazhif urusan petunjuk arah (map reader, liat petunjuk arah/lokasi yang dituju, cari mushola, exit way). Lisana urusan kebersihan (pastikan buang sampah pada tempatnya, tempat bekal & minum kembali ke tas, cuci tangan). Mami? Supervised lah. Sambil pastikan lisana & nazhif menempel terus di grup. Tidak lupa di awal, briefing mau kemana, naik apa, peraturan standar, & protab kalau terlepas dari grup.

Sampai di st kota tua, karena semua museum tutup (museum bank indonesia, museum bank mandiri, museum fatahillah, dll), kami lanjut ke taman kalijodo dengan kendaraan umum yang hanya memakan waktu 10 menitan. Lanjut makan siang dengan perbekalan yang kita bawa dari rumah. Setelah itu, Lisana dan nazhif puas main dengan fasilitas di RPTRA, ada ruang baca dan main lego, ada permainan ketangkasan (panjat, ayunan, perosotan, jungkat jungkit, dll), namun sayang ketika mau pinjam bola untuk main sepak di lapangan hijau, bola sedang tidak disediakan karena rumput nya sedang dalam perawatan. Tidak lupa, foto-foto karena memang spot nya disediakan seperti tembok graffity, tangga & pegangannya dengan design minimalis, area bermain skate sepeda.

Nah.. karena sayang sudah terlanjur sampai daerah kota tua walau tidak masuk ke museum-museum nya, kamipun lanjut exploring, for the sake of history and foto tentu saja.

Sengaja mami ajak keliling naik bajaj, supaya bisa liat seputaran kota tua tanpa terlalu capek jalan kaki (waktu hanya berdua RJ dulu sih jalan, tapi karena bawa Lisana, mari hemat energi hehe).

Kami kembali naik kereta sampai depok. Sambil perjalanan pulang, mami tidak lupa bertanya “bagian mana yang paling berkesan & disuka?” Rafa menjawab ketika naik kereta (mungkin kali ini karena rute nya lebih panjang), Nazhif ketika di museum fatahillah berfoto dan suasana yang ramai dengan sepeda ontel, Lisana ketika main di ruang publik kalijodo (sampai susah diminta pulang hehe), & afkar menjawab ketika perjalanan pulang mobil kita sempat mogok (mobil mami parkir di st depok baru) Hahahaha… Yap, tiap anak punya bagian terekam nya masing-masing.

Ohya, dari laporan mas Afkar, uang habis sekitar 250.000 untuk trip kali ini dengan kami ber-5, including tiket kereta PP depok-kota-depok, biaya angkot-bajaj-kopaja, makan (untuk melengkapi bekal) & minuman, juga squeezy (karena ngelewatin asemka haha). Dari laporan mas Rafa, foto lebih banyak menggunakan iphone daripada gopro & sekarang sedang tahap pembuatan video blog nya. Kalau mas Nazhif, kebetulan karena ini pengalaman exploring pertamanya ke kota tua, rasa ingin tahu nya besar sekali sehingga banyak berkreatif tambahan apalagi dia dikasih tanggung jawab lihat lokasi & penunjuk arah hehe.. misalnya, suka ngacir sendiri menyusul kakak-kakaknya yang sedang antri tiket padahal mami sudah tetapkan menunggu di titik yang disepakati, atau explore Kalijodo sampai titik pandang pengawasan terjauh.. haha nazhif… nazhif…. Untung ada 3 pasang mata yang awas dan siaga.

Thank you to 4 anak yang luar biasa bekerjasama, terkhusus 2 anak remajaku yang makin bisa diandalkan untuk urusan-urusan seperti menyebrang, antri (sementara kita bisa menunggu sambil duduk), sigap liat gadget perihal what to do next and how to do it (alias punya back up plans), jaga 2 adiknya (& maminya tentu saja), beri kursi di kereta, & masih banyak hal perintil lain yg of course i appreciate.

Mungkin journey ini tidak sepenuhnya semua yang anak-anak sukai, hal ini disengaja agar ada pengalaman-pengalaman hidup yang bisa dipetik dan mungkin disadari di kemudian hari. Value-value seperti saling menghargai, saling melindungi, gerak cepat & ambil keputusan cepat, berkomunikasi dengan baik, bekerjasama, and many more semoga bisa membekas, mungkin tidak sekarang, tapi nanti…

Until our next journey, kids…

DAteam goes to Kota Tua. Photo credit: RJ
DAteam goes to Kota Tua. Photo credit: RJ

Tidur di Mobil

Jika si #baladaAnakBanyak pulang malam dan semua ngantuk

Scene 1

RJ mapan selonjoran di kursi paling belakang

Afkar mapan di kursi samping supir

Nazhif mapan di kapten seat kanan di reclining

Lisana mapan di kapten seat kiri di reclining
(tentu ketika kursi di recline, drama kejepit pun ada..)

Mami Ayah? karena Lisana gak mau kalau gak pelukan sama mami, jadi mami berdua lisana. Ayah, terpaksa ikut nyempil disamping nazhif dengan badan segede itu.. *maafYaYah :p

Scene 2 – RJ out

Nazhif pindah selonjoran di kursi belakang

Afkar dan Lisana masih ditempat yang sama

Tersisa 1 kapten seat

Mami Ayah pun pangku-pangkuan. Pegel dan sakit kejepit ditahan dulu, demi keromantisan… :p

Dining Out

si #baladaAnakBanyak makan di restoran

Nazhif tiap menit “mam, dimana colokan?”

Lisana tiap menit “mam, mau pup. eh ga jadi deh..” lalu jungkir balik kursi bolak balik

Afkar dan RJ ketika ditanya tentang skejul Lebaran keluarga Aditya kompak lantang bilang “udah tau maaaaam!” Ketika ditanya “ok, tell us what do you know?” Salah semua jawabannya.. hedeghhhh….

Lalu mami dan ayah? bolak balik shout SHOBAROOOON :p